BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Kesadaran ini
telah mulai digulirkan oleh tokoh pembaharu muslim pada akhir abad ke-19 yang
dimotori oleh Jamâluddin al-Afghânî (1839-1897 M).[1]
Muhammad ‘Abduh (1845-1905 M).[2]
dan tokoh pembaharu muslim lainnya. Kesadaran ini dimulai dengan melakukan
gerakan Islamization for Knowledge
dalam segala bidang kehidupan, meliputi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan
bidang kehidupan lainnya. Hal ini sejalan dengan Islam yang mengusung visi
sebagai agama rahmatan lil ‘âlamîn.
Manusia
sebagai titik sentral organisasi mendapatkan perhatian yang cukup serius dalam
Islam, karena manusia adalah wakil Tuhan di dunia yang menerima mandat untuk
mengatur segala aktifitas kehidupan agar berlangsung dengan seimbang sesuai
dengan peraturan-Nya (sunnatullah). Untuk menjalankan proses tersebut Islam
memberikan rambu-rambu prinsipil yang harus ditegakkan.[3]
Prinsip al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ‘an
al-munkar.[4] Bahwa
setiap muslim wajib melakukan perbuatan yang ma’ruf, yaitu perbuatan yang baik
dan terpuji, seperti halnya tolong menolong (ta’âwun), menegakkan keadilan diantara manusia, termasuk
mempertinggi efesiensi, menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya, dan lain
lain.
Manajemen sebagai
suatu metode pengelolaan yang baik dan benar, untuk menghindari kesalahan dan
kekeliruan itu juga bagian dari menegakkan amar ma’ruf. Kewajiban menegakkan keadilan kapan dan di manapun,
segala perbuatan, harus adil kepada dirinya dan adil terhadap orang lain.Kewajiban
menyampaikan amanah, termasuk amanah dalam melayani dan memuaskan semua pihak
yang terkait. Dalam sudut pandangan Islam, segala sesuatu harus dilakukan
secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan
baik. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW
bersabda dalam sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, “Sesungguhnya Allah, sangat mencintai orang
yang jika melakukan sesuatu pekerjaan dilakukan secara itqan (cepat, terarah, jelas dan tuntas) HR. Baihaqi.[5]
Di dalam hadits
riwayat Imam Muslim, dari Abu Ya’la, Rasulullah SAW, bersabda, “Allah
mewajibkan kepada kita untuk berlaku ihsan dalam segala sesuatu”. Kata ihsan
bermakna “melakukan sesuatu secara maksimal dan optimal, tidak boleh seorang
muslim melakukan sesuatu tanpa terencana, dan pemikiran”.
Allah sangat
mencintai perbuatan-perbuatan yang termenej dengan baik, sebagaimana dijelaskan
dalam Al - Qur’an surah Ash-Shaff ayat 4 :
إِiنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ
بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Artinya : Sesungguhnya
Allah menyukai orang yang berjuang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur
seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Makna kokoh yang
dimaksud adalah adanya sinergi secara teratur dan terarah di setiap bagiannya.
Jika hal ini terjadi, maka akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Saat ini
perkembangan masyarakat yang semakin kompetitif menuntut setiap orang untuk
berkompetisi secara sehat, sama halnya dengan sebuah industri bidang jasa
termasuk juga dalam pendidikan yang tidak kalah pentingnya harus juga mendapat
peluang yang sama, untuk berkompetisi merebut pasar, sehingga setiap organisasi
atau instansi harus mengedepankan kualitas dalam proses manajerialnya.
Oleh karena itu,
dalam peningkatan kualitas pelayanan di dalam suatu organisasi tentunya harus
dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif, dan efisien dalam
proses pembangunan. Kaitannya dengan persoalan kualitas, dewasa ini telah
berkembang sebuah pendekatan, khususnya dalam proses manajerial, yaitu Total
Quality Management (TQM).
Membahas
mengenai Total Quality Management, penulis mengutip pendapat dari Bruce Brocka
dan M. Suzanne mengenai Total Quality Management, yaitu : “Quality management or total quality management (TQM) is a way to
continuously improvement performance at every level of operation, in every
functional area of an organization, using all available human and capital
resources”[6]
Dalam memperbaiki kinerja dan peningkatan kualitas pembaharuan dalam sebuah
organisasi dalam segala bidang, tentunya tidak dapat dilepaskan dari dua unsur,
yakni manusia dan modal.
Perguruan tinggi
di Indonesia walaupun penggarapan dalam bidang penjaminan mutu perguruan tinggi
secara formal baru dimulai tahun 2003, yaitu ketika saat munculnya pedoman
penjaminan mutu perguruan tinggi yang diterbitkan oleh Dikti Depdiknas, namun
sesungguhnya gerakan penjaminan mutu telah ada jauh sebelum itu. Salah satu
faktor yang signifikan mendorong adanya gerakan penjaminan mutu di lingkungan
perguruan tinggi adalah ditetapkannya HELTS 2003-2010 yang berharap besar untuk
pendidikan tinggi nasional dapat menyumbang bagi peningkatan kemampuan
kompetisi bangsa serta terwujudnya organisasi perguruan tinggi yang sehat.[7]
Selain itu, manajemen
mutu (TQM) merupakan filosofi dan prinsip yang mewakili dasar-dasar perbaikan
organisasi secara berkesinambungan. TQM juga merupakan penerapan metode
kuantitatif dalam sumber daya manusia untuk memperbaiki material dan pelayanan
suatu organisasi yang keseluruhannya memproses dalam organisasi sehingga
kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi, baik sekarang maupun yang akan datang. Total
Quality Management dapat digunakan untuk menggambarkan dua gagasan yang cukup
berbeda, namun saling berkaitan. Gagasan yang pertama adalah filsafat perbaikan
secara berkensinambungan. Gagasan yang kedua adalah saling berkaitan dalam menggunakan
TQM untuk menggambarkan gak teknis serta strategis, di mana dalam penggunaannya dilakukan perbaikan
kualitas ke dalam tindakan yang saling mengerucut dalam bentukan sikap dari
metode yang dilaksanakan secara berkesinambungan.[8]
Dalam
perkembangan berikutnya, gerakan penjaminan mutu menjadi semakin cepat tumbuh
dalam perguruan tinggi di saat semua skenario pemberian blockgrant harus
disertakan adanya kesediaan perguruan tinggi nasional untuk menyelenggarakan
penjaminan mutu. Faktor ini merupakan faktor yang paling memacu munculnya
wadah-wadah penjaminan mutu pada perguruan tinggi negeri, walaupun akhirnya
banyak pelaksanaan penjaminan mutu di Perguruan tinggi negeri Islam terlahir
bukan karena dorongan dari internal berupa budaya mutu tetapi sebatas
kepentingan pemenuhan administratif persyaratan perolehan blockgrant.[9]
Fenomena yang demikian nampak misalnya pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
sebagai salah satu Perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia. Kehadiran
penjaminan mutu, baik akademik dan ideologi sebagai kebutuhan upaya peningkatan
kualitas Pendidikan tinggi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Upaya dalam
meniscayakan untuk munculnya penjaminan mutu setidaknya diidentifikasi tiga
faktor yaitu: (1) perubahan tuntutan pada perguruan tinggi oleh semakin
langkanya sumber pendanaan masyarakat yang di dalamnya muncul (2) keharusan
adanya akuntabilitas publik serta munculnya (3) persyaratan kualifikasi lulusan
oleh pasaran kerja.[10]
Melalui konsep
TQM, sebuah organisasi dapat berusaha untuk meningkatkan kinerja secara berkesinambungan,
namun bukan berarti merupakan beban. Pembahasan TQM juga mengenai bagaimana
cara untuk melakukan pemenuhnan permintaan dari pelanggan atau klien secara
utuh. TQM juga bukan merupakan tugas yang dibebankan semata mata pada pimpinan
atau rektor dalam perguruan tinggi, tetapi merupakan tugas bersama siapapun
yang terlibat di dalamnya. TQM juga bukan sebuah tugas manajer senior yang
selanjutnya memberikan arahan kepada para bawahannya.[11]
Shrode dan Voich sebagaimana yang dikutip Fatah, mengatakan bahwa tujuan utama
manajemen adalah produktifitas dan kepuasan.[12]
Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap
situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan kelemahan, peluang dan
ancaman.
Sedangkan
produktifitas itu sendiri sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa ahli,
Juran berpendapat bahwa kualitas adalah kecocokan penggunaan produk (Fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.[13]
Crosby mempunyai gagasan yang berbeda, menurutnya kualitas adalah conformance to requirement, yaitu suatu
yang disyaratkan. Dalam suatu pengertian prodak memiliki kualitas apabila
sesuai dengan standar kualitas yang ditentukan. Adapun standar kualitas yang dimaksud meliputi input, proses dan
output.[14]
Hal yang sama
juga dijelaskan oleh Goetsch and Davis, bahwa manajemen dikatakan bermutu
apabila memenuhi beberapa unsur berikut: 1) kepuasan pelanggan, baik pelanggan
internal maupun eksternal; 2) memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas; 3)
menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan
masalah; 4) memiliki komitmen jangka panjang; 5) membutuhkan kerjasama tim (team
work); 6) memperbaiki proses secara berkesinambungan; 7) menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan; 8) memberikan kebebasan yang terkendali; 9) memiliki
kesatuan tujuan; dan 10) adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.[15]
Kedua pandangan
tersebut memiliki kesamaan karena sama-sama menempatkan unsur kepuasan
pelanggan, kerja tim, berorientasi jangka panjang, dan pemberdayaan personil
perguruan tinggi dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program.
Dalam dunia
pendidikan, dua pertanyaan pokok yang penting dikemukakan adalah apa hasil
pendidikan dan siapa pemakai hasil pendidikan tersebut? Hasil pendidikan berupa
nilai tambah bagi subyek didik, memiliki tingkat kepentingan yang berada antara
subyek didik itu sendiri sebagai pemakai kedua, pasar tenaga kerja sebagai
pemakai ketiga dan dosen atau staff pendukung sebagai orang yang terlibat dalam
proses pendidikan yang justru menggunakan subyek didik itu sendiri.[16]
Dalam hal ini,
pada kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta penjaminan mutu tidak sebatas
menjaga kualitas akademik tetapi juga kualitas ideologi Islam. Pada kampus UIN
Jakarta, aspek mutu ideologi harus dijaga dan dilaksanakan sebab misi UIN
Jakarta tidak sebatas menjangkau pada mutu akademik, tetapi harus menghasilkan
lulusan yang bermutu secara ideologi keislaman. Itulah sebabnya penjaminan mutu
dalam kampus UIN Jakarta tidak hanya sekedar menghasilkan lulusan yang unggul
akademik. Meninggalkan mutu ideologi dapat berakibat UIN Jakarta kehilangan
kader penerus dan akhirnya dapat runtuh. Selain itu menjaga mutu ideologi
dijadikan karakter pembeda dengan lulusan dari perguruan tinggi lain.
Istilah mutu
atau kualitas itu sendiri mengandung dua hal. Pertama sifat dan kedua taraf.
Sifat adalah sesuatu yang menerangkan keadaan benda sedang taraf menunjukkan
kedudukannya dalam suatu skala. Tiap manusia memiliki pandangan yang berbeda
tentang sifat dan taraf tersebut. Demikian juga halnya terhadap sifat dan taraf
mutu atau kualitas pendidikan. Terdapat deskripsi tentang sifat dan taraf yang
berbeda. Deskripsi berdasarkan pendekatan ekonomi dengan penekanan pada
relevansi keluaran pendidikan dengan lapangan kerja yang ditampilkan melalui
istilah-istilah “siap pakai”, “siap kerja”, dan “siap latih” akan berbeda
dengan deskripsi yang memakai pendekatan intrinsik dan instrumental pendidikan.
Pendekatan kedua ditampilkan melalui istilah-istilah sikap, kepribadian dan
kemampuan intelektual sesuai dengan tuntutan tujuan pendidikan nasional.[17]
Hal demikian
berlaku juga pada pemahaman akan mutu atau kualitas suatu perguruan tinggi.
Mutu atau kualitas madrasah didefinisikan berdasarkan pendekatan dua dimensi,
yakni instrinsik dan instrumental. Pendidikan instrinsik orientasinya
substantif sedang instrumental orientasinya situasional dan institusional.
Namun demikian, keragaman itu saling lengkap-melengkapi atau saling menafsirkan
untuk kemudian jadi satu kesatuan yang menggambarkan postur dosen atau tenaga
pengajar yang bermutu atau berkualitas. Benang merah yang menghubungkan dua
pendekatan tersebut adalah tugas dan tanggungjawab. Perguruan tinggi yang bermutu atau berkualitas pada dasarnya
adalah pendidikan yang mampu melaksanakan tugas dan fungsi akademiknya secara
bertanggungjawab.[18]
Berbeda dengan
pengertian mutu atau kualitas pendidik yang menurut pendapat Abdurrahman
An-Nahlawi,[19]
berkaitan dengan tanggung jawab seorang pendidik dalam melaksanakan tugasnya.
Beliau menyatakan bahwa sifat dan persyaratan seorang pendidik adalah adanya
sifat rabbany pada tujuan, perilaku dan pola pikir, kemudian ikhlas,
sabar, jujur, membekali diri dengan ilmu serta menguasai teknis mengajar.
Sedangkan Athiyah Al Abrasyi,[20]
menyebutkannya dengan rangkaian sifat-sifat zuhud, bersih, ikhlas, pemaaf,
kebapakan atau keibuan mengenal tabiat mahawsiswa dan menguasai materi perkuliahan.
Meskipun
pengertian mutu atau kualitas baik menurut kebahasaan (lughawi) maupun
istilah telah tercantum di atas, namun keduanya merupakan dua istilah yang
sampai sekarang pengertiannya secara tepat belum disepakati masih saling tarik
ulur di kalangan para ahli, sebab menyangkut dua belah pihak yang menggunakan
dan menghasilkan. Kedua belah pihak tersebut memiliki pandangan dan kepentingan
yang berbeda. Karena itu, susah dipastikan dan sulit digambarkan secara
kongkrit tetapi mempunyai indikator-indikator tertentu misalnya kepuasan para
penggunanya, tidak heran jika Pretter dan Coote menyebut bahwa kualitas sebagai
suatu konsep yang licin (a slippery concept). Perbadaan makna dan
penafsiran tentang kualitas ini disebabkan oleh hakikat kualitas itu sendiri
yang dinamis dan bernuansa emosional dan moral.[21]
Seperti
dijelaskan terdahulu bahwa mutu atau kualitas sebagai suatu konsep dapat
digunakan sebagai sesuatu yang absolut dan relatif. Dalam konsep absolut,
kualitas diartikan sama dengan kebaikan, keindahan, kecantikan atau sesuatu
yang ideal tanpa bandingan. Sedangkan dalam konsep relatif, suatu barang atau
jasa dikatakan berkualitas jika telah memenuhi spesifikasi yang telah
ditentukan, tetapi juga harus sesuai dengan keinginan pelanggan.[22]
Oleh karena itu, muncul konsep ketiga tentang kualitas menurut definisi
pelanggan. Persoalannya adalah pelanggan yang mana, karena pelanggan suatu
organisasi tentu banyak dan memiliki keinginan yang berbeda.
Walaupun tidak
terjadi kesepakatan pengertian tentang mutu atau kualitas seperti diuraikan di
atas, namun Shoji Shiba, Alan Graham, dan David Malden, mengatakan bahwa
perkembangan konsep mutu atau kualitas dimulai dengan empat kesesuaian, yaitu:
kesesuaian dengan standar, kesesuaian dengan pengguna, kesesuaian dengan biaya
dan kesesuian dengan persyaratan yang belum kelihatan.[23]
Persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan yang diharapkan oleh para
pelanggan yang tentu saja belum kelihatan wujudnya oleh suatu organisasi
sebelum produknya dirasakan oleh konsumen.
Berdasarkan
beberapa argumen di atas, dapat dimengerti secara pasti, karena menyangkut
kepuasan para pelanggan yang memiliki kepentingan dan kebutuhan yang
berbeda-beda. Tetapi setidaknya, mutu atau kualitas sesuatu itu didasarkan pada
kesesuaian dengan persyaratan yang sudah ditentukan, baik persyaratan dalam
penggunaan, biaya, dan kesesuaian dengan standar tertentu yang akhirnya akan
dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan para pelanggan suatu institusi atau
organisasi.
Jika batasan
mutu atau kualitas tersebut dikaitkan dengan pendidikan, maka kualitas pendidikan
ditentukan oleh kesesuaian dengan persyaratan yang telah ditentukan, baik
kesesuaian dengan persyaratan akademik, pelayanan, perencanaan dan evaluasi
yang merupakan kemampuan pendidikan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.[24]
Karena pendidikan
dipandang sebagai investasi sumber daya yang tidak pernah rugi dan sekaligus
memiliki nilai tambah yang dipastikan memiliki nilai balik yang menguntungkan.
Fenomena demikian mulai menguat pada masyarakat Indonesia yang semakin sadar
atas investasi sumber daya manusia untuk kepentingan kompetisi maupun upaya
meningkatkan kompetisi serta keunggulan terutama dalam memasuki globalisasi dan
kompetisi dalam ekonomi dan mobilisasi status individu melalui pencapaian keunggulan
keilmuan dan teknologi serta keunggulan finansial.[25]
Selai itu, mutu
atau kualitas pendidikan yang juga seringkali dikaitkan dengan profesionalisasi
manajemen. Pendidikan yang bermutu atau kualitas adalah yang mampu memberikan
layanan sesuai kebutuhan standar.[26]
Dengan demikian, nilai moral/etik dan standar pelayanan menjadi persyaratan
bagi mutu atau kualitas belajar di setiap madrasah. Mutu atau kualitas dalam
memenuhi kebutuhan pelanggan merupakan keterampilan profesional organisasi yang
dikaitkan dengan standar kualitas yang ditetapkan oleh manajemen pada lembaga
yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan tersebut. Dalam hal ini kualitas
dapat dikelompokkan ke dalam dua skema: pertama, kualitas meliputi tanggungjawab,
audit dan penilaian yang dilakukan oleh pihak yang berwenang; dan kedua,
peningkatan kualitas lebih dikaitkan dengan pemberdayaan, otorisasi, keahlian,
dan keunggulan orang-orang yang dilibatkan. Oleh karena sejalan dengan
menejemen perguruan tinggi di Indonesia seyogyanya selalu memandang bahwa
proses pendidikan tinggi adalah suatu peningkatan yang terus-menerus (continous
educational process improvement), yang dimulai dari sederet siklus sejak
adanya ide-ide untuk menghasilkan lulusan (output) yang berkualitas.[27]
Sejalan dengan
harapan besar masyarakat atas peran lembaga pendidikan tinggi Islam, maka kini
tuntutan masyarakat terhadap kualitas pendidikan Islam semakin menguat.
Tuntutan atas mutu ini semakin menguat terlebih ketika dalam masyarakat terjadi
perubahan paradigma makro dari efek globalisasi dengan corak logika ekonomi
yang semakin transparan, maupun dalam realitanya dalam Perguruan tinggi Islam
yang belum terwujud jaminan mutu secara sesuai. Seharusnya Perguruan tinggi
Islam juga berfungsi sebagai layanan publik sebagaimana perguruan tinggi
lainnya.
Meskipun secara
redaksional pengertian mutu memiliki keragaman, tetapi semua argumen tersebut
menganggap bahwa sesuatu yang bermutu manakala memenuhi dua aspek utama, yaitu
telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan pemenuhan kepuasan pelanggan.
B.
Permasalahan
1.
Identifikasi
Masalah
Manajemen untuk
sebuah institusi adalah sebuah keharusan jika kita melihat arah dan kebijakan
pengembangan perguruan tinggi (PT) dewasa ini harus mengacu kepada paradigma
baru yang berpijak pada 5 hal hal, yaitu Kemandirian (Autonomy), Akuntabilitas (Accountability),
Jaminan Kualitas (Quality Assurance),
Evaluasi Diri, dan Akreditasi sebagai jaminan mutu akademik.
Di samping itu, kepemimpinan
mempunyai hubungan yang sangat penting dalam rangka perkembangan suatu
perguruan tinggi. Bagaimanapun juga efektifitasnya sangat menentukan. Tidak
terkecuali para dosen yang mengambil mata kuliah tertentu dalam menjalankan
tugas-tugasnya secara professional yang mengarah kepada Tri Darma Perguruan
Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada
masyarakat, ketiganya harus saling bersinergi agar pelaksanaan pendidikan di
perguruan tinggi berjalan secara maksimal.
2.
Pembatasan
dan Perumusan Masalah
Agar fokus dalam
penelitian ini, maka pembahasan yang akan dikaji terkait dengan penelitian
disertasi ini yang mengambil tempat penelitian di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta yang berfokus pada manejemen mutu dari sisi akademik dan sisi
administrasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Adapun masalah
pokok yang akan dikaji di sini adalah sejauh mana desain proses pendidikan yang
diterapkan.
a.
Konsistensi dari
kepemimpinan dalam melaksanakan tugas.
b.
Bagaimana riset
pasar untuk mengetahui kebutuhan dan kemampuan lulusan
C.
Perumusan
Masalah
Pada
masalah-masalah pokok tersebut di atas dapat dijabarkan ke dalam sub bab
sebagai berikut:
1.
Bagaimana
kualitas manajemen mutu dari sisi Akademik pada UIN Jakarta?
2.
Bagaimana
kualitas manajemen mutu dari sisi administrasi keuangan pada UIN Jakarta?
D.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.
Menganalisa mutu
manajemen dari sisi akademik pada UIN Jakarta
2.
Menganalisa mutu
manajemen dari sisi administrasi akademik pada UIN Jakarta
E.
Signifikansi
dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan pada
uraian dan rumusan masalah serta tujuan yang ingin dicapai, maka signifikansi
penelitian disertai yang saya tulis ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Secara teoritis
merupakan pola pintu masuk dalam kajian manajemen Mutu pada perguruan tinggi
yang memberikan perspektif dan interpretasi terkait dengan pengelolaan mutu dan
profesionalisasi manajemen.
2.
Secara praktis
ingin memberikan sumbangan pemikiran dan masukan bagi stakeholder yang terkait
dengan peningkatan kualitas dan perumusan kebijakan dalam menjalankan tugas
untuk mencapai mutu yang diinginkan masyarakat.
F.
Kajian
Terdahulu yang Relevan
Penelitian
yang mengkorelasikan Manajemen Mutu (TQM) dengan prilaku ekonomi manajemen
sebenarnya bukan merupakan penelelitian yang baru, sebab sejak ahir abad 19
sebagaimana Max Weber yang meprakarsai penelitian tentang keyakinan agama
dengan prilaku ekonomi dengan judul The
Protestan Ethic and the Spirit Of Capitalism.[28]
Menurut Weber etik Protestanisme yang berkembang pada abad ke-18 di Eropa Barat
adalah falsafat yang memberi dasar
kultural bagi perkembangan kapitalisme dan revolusi industri.
Edward
Sallis, Total Quality Managemen in
Education[29]
di mana mengutip pendapat Peter dan
Austin dalam pembahasan “Excellence in
School Leadership “ mengatakan di mana kepemimpinan merupakan faktor
penting dalam mencapai mutu, komitmen terhadap kualitas mutu harus menjadi peran utama
bagi seorang pemimpin. Lebih lanjut Salis mengemukakan bahwa yang paling
penting dalam meningkatkan mutu pedidikan yaitu tekad mencapai mutu yang
terbaik dimulai dari atas (top down process).[30]
Dalam
masalah ini, menurutnya ada 13 agenda kegiatan manajemen yang meliputi, menyenangkan pelanggan melalui
pertemuan, diskusi, membentuk beberapa fasilitator dan konsultasi yang akan
memasyarakatkan program-progranm yang direncanakan, serta mengarahkan dalam
program peningkatan mutu, membetuk pengarah peningkatan mutu yang selalu
mendorong dan menunjang tercapainya
peningkatan mutu yang akan menyelesaikan, serta mengarahkan jika terjadi permasalahan.
Menyelenggarakan seminar manajemen dalam
rangka mengevaluasi kemajuan, mendiagnosis serta menganalisis situasi yang
sedang berkembang, menguji coba model-model yang telah diterapkan oleh lembaga
atau instansi lain, Menggunakan konsultan, Menyebarluaskan pengertian mutu
kepada seluruh individu, masyarakat
serta lembaga Pendidikan agar semua merespon serta terlibat dalam proses
peninkatan budaya, mengukur biaya dari mutu, termasuk mengkalkulasi kerugian
yang diakibatkan dari penurunan jumlah mahasiswa, drop out, reputasi dan
akreditasi yang menurun, menerapkan teknik kerja yang efektif, serta selalu
mengevaluasi program yang telah dilaksanakan pada setiap periode yang telah direncanakan
tidak mengalami kegagalan serta mengulangi kesalahan.
Adapun
pendapat W. Edwards Deming dalam bukunya Out
of the Crisis.[31]
menyatakan bahwa masalah mutu terletak pada masalah manejemen. Ukuran
kesuksesan adalah kepuasan pelanggan. Hal ini nampaknya tidak bisa diterapkan
sepenuhnya pada lembaga di Indonesia, jika hal itu tidak diimbangi dengan apa
yang disebut dengan etik sumberdaya
manusia yang ada, karena etos kerja bangsa Indoesia belum mampu menciptakan
hasil yang bak, jika tertumpu pada masalah manajemen saja tidak cukup.
M.P.
Peak dalam penelitiannya yang berjudul Total Quality Management,
kualitas digambarkan sebuah filosofi tata cara dan pendekatan yang dipakai oleh
manajemen untuk menyusun sekumpulan prinsip, dimana keterlibatan satu sama lain
selalu berkausalitas, hal ini tidak kalah penting dalam proses belajar mengajar
di kelas antara dosen dan mahasiswa bias dikatakan bermutu apabila mengacu pada
pendekatan secara sistematis untuk
perbaikan terus menerus dalam pengertian dosen tidak bekerja sendiri, disini
harus ada partisipasi dari semua elemen yang terkait dengan pelaksanaan proses
belajar mengajar. Maka rencana ke depan Indonesia sudah saatnya menciptakan
bagaimana pendidikan tinggi selalu (continuous educational process improvment)
yang tidak ada henti-hentinya, semenjak tercetus ide – ide untuk menghasilkan
lulusan yang berkualtas sesuai dengan tuntutan zaman, pengembangan kurikulum
yang mutahir, proses pembelajaran serta bertanggung jawab untuk memuaskan para
pengguna kelulusan. Kualitas menurutnya tidak terbatas pada produk dan jasa,
akan tetapi juga kualitas proses penyelenggaraan program dan penyediaan jasa
pendidikan.[32]
Penemuan
sistematik dan penjaminan mutu pada lembaga pendidikan Islam yang berbasis pada
keunggulan serta keunikan pendidikan Islam yang mengakomodasikan unsur dasar
penjaminan mutu yang ada sangat diperlukan. Penemuan penjaminan mutu ini
penting karena disamping penjaminan mutu Perguruan tinggi Islam belum
terumuskan, juga unsur dasar penjaminan mutu selama ini sudah berkembang di
dalam perguruan tinggi Islam.
Kehadiran
penjaminan mutu dalam lingkungan Perguruan tinggi Islam secara ideal untuk
menjaga kualitas ideologi serta akademik. Namun, dalam sisi lain kehadirannya
dapat didasari alasan lain sebagaimana diungkapkan dalam disertasi tentang mutu
pendidikan tinggi di Hongkong. Ditemukan bahwa penyelenggaraan mutu pendidikan
merupakan reaksi atas sejumlah perubahan keadaan yang terkait dengan:
(a).perubahan konteks yang terkait dengan sebaran profil mahasiswa,
internalisasi pendidikan tinggi maupun pasaran kerja. (b) munculnya angkatan
kerja dan mahasiswa (c) ketidakpuasan dari pekerja dan mahasiswa (d) desakan
karena terbatasnya dana (e) tuntutan untuk melakukan pertanggung jawaban
terhadap kelembagaan.[33]
Dalam lingkungan UIN Jakarta, sebagian reaksi tersebut terjadi misalnya reaksi atas
ketidakpuasan mahasiswa dan desakan terbatasnya dana.
Teori
Manajemen mutu kemudian menjadi kebutuhan dalam mengelola sektor-sektor hingga
era persaingan merebut jaminan mutu. Instansi pemerintah, swasta dan
masyarakat sebagai pengguna jasa pasti
menginginkan pelayanan yang berkualitas. Berbagai teori yang berkembang dalam
hal manajemen mutu sebagai upaya untuk meningkatkan dan menjamin mutu, yaitu Quality Control ( QC ), Quality
Assurance ( QA ), Total Quality Control ( TQC ), dan Total Quality Management (
TQM ). Manajemen mutu memiliki fokus pada kepuasan pelanggan. Tidak dapat
dipungkiri bahwa Manajemen Mutu (TQM)
atau lebih dikenal dengan manajemen mutu terpadu merupakan konsep yang
mempunyai nilai nilai yang baik.
Total
Quality Management merupakan suatu sistem manajemen yang
berfokus kepada orang yang bertujuan untuk meningkatkan secara berkelanjutan
kepuasan customers sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Deming
yang dituangkan dalam karyanya yang sangat banyak. Hal ini Deming memfokuskan
pada bagaimna cara memningkatkan kualitas produk secara berkelanjutan dan terus
menerus untuk ditingkatkan. Menurut Deming, filosofi manajemen yang
berpartisipasi untuk mencapai kepuasan pelangggan terhadap kesesuaian sistem
secara total melalui media, kepakaran dan pelatihan.[34]
Di
samping itu, ada pneltian yang dilakukan oleh Vincen Gaspert. Penelitian ini
dilakukan pada beberapa lembaga pendidikan yang dinilai memiliki mutu yang baik di Amerika. Dalam
penelitian yang berjudul Quality of Management, dapat diambil kesimpulan
bahwa lembaga lembaga pendidikaan yang berorentasi pada mutu (berusaha
meningkatkan mutu secra terus menerus) pada umumnya untuk mengukur performansi
kualitas ada tiga hal, yaitu: proses, output, dan outcome. Dalam
pengukuran tingkat pros yang dimulai dengan mengukur setiap langkah awal atau
aktivitas proses serta karakreristik input (Dalam pendidikan input di sini
adalah bagaimana seleksi mahasiswa yang diperoleh serta rekrutmen dosen yang
berkualitas). Adapun pengukuran pada tingkat output yang dihasilkan dibandingkan dengan karakteristik yang
diinginan oleh pelanggan. Dalam pengukuran pada tingkat outcome dapat di
lihat dari bagaimana terpenuhinya kepuasan pelanggan atas produk dan jasa yang
dihasilkan. [35]
Dapat
diketahui secara seksama bahwasanya Implementasi terhadap konsep Manajemen Mutu (TQM) dalam pendidikan di Indonesia
terbilang belum sempurna. Namun demikian, jika setiap usaha mengedepankan
perbaikan terus menerus secara maksimal tentunya akan tercapai sesuai dengan
penelitian dari para ahli terdahulu mengenai TQM secara tataran spesifiknya.
Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Kapuge dan Smith.[36]
Management practices and performance reporting in the Srilankan apparel sector
yang sesungguhnya secara berkelanjutan terus menerus, juga menjelaskan bahwa
TQM meningkatkan keterlibatan organisasi dalam mengupayakan peningkatan
kualitas secara terus menerus. Bertanggung jawab untuk mendeteksi hal-hal yang
tidak sesuai dengan pengendalian kualitas, hal tersebut membuat pekerja lebih
bertanggungjawab untuk pengendalian kualitas dari kinerja yang dihasilkan.
Berbagai
model dan perspektif yang dihasilkan oleh para pakar Manajemen Mutu (TQM), akan
tetapi konsep Mutu dalam bidang pendidikan agaknya berbeda dengan industri.
Perbedaan di sini terletak pada unsur manusia yang diproses sebagai hasil.[37]
Sim
dan Killough[38]
menjelaskan bahwa Total Quality Management merupakan suatu filosofi yang
menekankan peningkatan proses pemanufakturan secara berkelanjutan dengan
mengeliminasi pemborosan, meningkatkan kualitas, mengembangkan keterampilan,
dan mengurangi biaya produksi. Penelitian at al. (1993) memberikan
gambaran implementasi pemenufakturan TQM lebih menekankan karyawan dalam
memecahkan masalah, bekerja secara team work, dan membangkitkan pendekatan
inovatif untuk memperbaiki produksi. Banker at al. (1993) menyatakan
karyawan diminta mengidentifikasikan cara-cara untuk meningkatkan proses
pemanufakturan, mengurangi kerusakan, dan memastikan bahwa operasi perusahaan
berjalan efesien, serta lebih menekankan produk dan pelanggan (cutomers).
Waldman (1994)
menyatakan bahwa Mamnajemen Mutu (TQM) merupakan suatu sistem yang dirancang
sebagai kesatuan, yang memfokuskan pendekatan pelanggan dengan meningkatkan
kualitas produk dan pelayanan. Meskipun banyak usaha untuk memasukkan TQM dalam
organisasi, relatif kecil mengetahui seberapa besar kefektifan, dan
pengimplementasian strategi yang optimal.
Total
Quality Management (TQM) pertama kali lahir sebagai respon
terhadap munculnya persoalaan “krisis produktivitas”. Fenomena ini pertama kali
mencuat di dunia industri yang melibatkan negara-negara industri terutama di
Jepang dan Amerika pada tahu 1970-an dan 1980-an. Pada saat itu terjadi banjir
barang buatan Jepang di pasar Amerika dan Kanada. Sementara itu Amerika Utara
berada dalam periode dengan inflasi tinggi dan pengangguran yang tinggi.
Selain itu
konsep TQM juga dikemukakan oleh badan International Standard Organization
(ISO), yang menyatakan bahwa: “TQM is a management approach of an
organization, centered on quality, based on the participation of all its
members and aiming at long term success through customer satisfaction, and
benefit to all members of organization ang to society”. Konsep ini
menjelaskan bahwa TQM merupakan salah satu pendekatan bagi sebuah organisasi,
yang dipusatkan pada kualitas organisasi yang bersangkutan dengan menyertakan
partisipasi seluruh anggota yang ada dalam sebuah organisasi dan tujuannya
adalah kesuksesan jangka panjang bagi kepuasan pelanggan dan keuntungan bagi
semua anggota organisasi dan masyarakat. Dari konsep ini dapat disimpulkan
bahwa tujuan yang hendak dicapai dengan adanya penerapan Manajemen Mutu (TQM)
pada sebuah organisasi adalah tidak hanya bagi pemilik, atau pihak manajemen
organisasi saja, melainkan tujuan adalah jangka panjang guna meningkatkan
kepuasan para pelanggan dan semua
anggota yang ada dalam organisasi. Sedangkan Capecio dan Moorehouse
dalam Smith menjelaskan Total Quality Management sebagai: “Total
Quality Management as a management process and set of disciplines that are
co-ordinated to ensure that the organization consistenly meets exceeds customer
requirements.”
Adanya komitmen
terhadap mutu berpijak pada pengalaman, hasil riset yang dilakukan, serta
tulisan atau beberapa literature dari para tokoh pergerakan mutu seperti halnya
W. Edward Deming.[39]
Lebih lanjut konsep pemikirannya berkembang menjadi konsep pemikiran manajemen
sistem pendidikan tinggi yang bias
dilihat pada tahapan sebagai berikut. Tahap pertama bagaimana mengetahui riset
pasar, tujuannya adalah untuk mengetahui kebutuhan pasar tenaga kerja, Tahap
kedua desain proses, dimana desain ini akan memproses pendidikan yang
berorentasi pada pasar tenaga kerja, Tahap ketiga yaitu menjalankan proses
belajar mengajar secara efektif dan efisien, Tahap ke empat yaitu menyerahkan
lulusan yang kompetitif dan berkualitas baik dan unggul.[40]
Teori manajemen
mutu yang berkembang di Indonesia belum mampu mengaplikasikan POAC (Planning,
Organizing, Actuating, and Controling) secara baik, terbukti berapa besar
sumber daya alam Negara kita secara makro belum mampu mensejahterakan rakyatnya,
hal ini jika konsep konsep tersebut diaplikasikan dengan perpaduan konsep dan
cita-cita negara yang ingin memakmurkan serta menyejahterakan rakyatnya (Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur).
Dengan merujuk
pada TQM sebagai bahan acuannya yang telah penulis jelaskan di tas, maka melaui
disertasi ini penulis bertujuan untuk mengaitkan antara TQM dengan salah satu
institusi pendidikan Islam terbesar di Jakarta, yakni UIN (Universitas Islam
Negeri) Syarif Hidayatullah. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki posisi
penting dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam Indonesia. Sebelum bertransformasi
menjadi UIN dari sebuah akademi (ADIA) dan institut (IAIN), UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta memiliki reputasi yang dikenal sebagai lembaga penyemaian ide-ide
pemikiran Islam yang moderat, toleran, dan terbuka, khususnya dengan hadirnya
beberapa sosok penting sebagai bagian dari sivitas akademika seperti Prof. Dr.
Yunus Mahmud, Prof. Dr. Harun Nasution, Prof. Dr. Nurcholish Madjid dan juga
Prof .Azyumardi Azra, Prof.Maskuri Abdillah, Prof.Komarudin Hidayat,
Prof.Jamhari yang telah memperkenalkan metode pemahaman dan penafsiran Islam
yang lebih modern, inklusif, dan rasional.[41]
Dengan kehadiran
para tokoh tersebut, dapat disadari bahwa dapat memberikan angin perubahan yang
selanjutnya dapat melahirkan berbagai tokoh intelektual Islam Indonesia yang
memiliki reputasi sebagai tokoh Islam dengan pemahaman dan penafsiran Islam secara
toleran dan moderat yang berasal dari lembaga pendidikan tersebut. Bahkan dari
kalangan ini pulalah mulai dikenalnya pendekatan
yang mengintegrasikan ilmu sosial dan sains ke dalam ilmu-ilmu Islam. Dengan posisi
yang sangat strategis inilah yang kemudian menjadi modal utama bagi UIN Jakarta
dalam memposisikan diri ketika harus berkompetisi dengan perguruan tinggi lain
di Indonesia.
Tradisi
intelektual yang kokoh dalam bidang Islamic Studies ini memberikan
manfaat tersendiri bagi UIN Jakarta untuk mengembangkan daya tarik sekaligus
keunggulan yang bersifat kompetitif (competitive advantage) di antara
kebanyakan perguruan tinggi di Tanah Air. Namun demikian, dengan semakin
bertambahnya disiplin keilmuan pada berbagai program studi yang
diselenggarakan, UIN Syarif Hidayatullah dituntut untuk memiliki daya saing
komparatif (comparative advantages) terhadap perguruan tinggi lain.
Sebagai bagian
dari upaya penguatan peran tersebut, UIN Syarif Hidayatullah mencanangkan visi
pengembangan jangka panjangnya sebagai universitas kelas dunia (World Class
University). Predikat universitas kelas dunia menunjuk pada reputasi yang
dibangun dari rekognisi internasional atas kinerja pendidikan suatu universitas
yang terukur terutama pada, kualitas output sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan;
kedua, mutu, relevansi, dan manfaat penelitian dalam konteks pengembangan ilmu
dan pemecahan masalah-masalah kemanusiaan; ketiga, kontribusi lembaga dan
sivitas akademika dalam mendorong perubahan ekonomi, sosial, dan budaya secara
progresif. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan rencana dan
langkah-langkah strategis yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Institusi
yang baik, harus memiliki visi yang berani agar tetap eksis.[42]
Mengutip
pendapat yang dikemukakan oleh A. Malik Fajar, bahwa visi dan misi harus jelas
dan tegas bertumpu pada kenyataan.[43]
Oleh karena itu kenyataan yang ada pada
internal dan eksternal perlu diidentifikasi dengan baik ketika akan merumuskan
visi dan misi sehingga apa yang direncanakan oleh intitusi tersebut akan dapat
terlaksana dengan baik. Cita – cita dan sasaran pendidikan merupakan rumusan
dan harapan secara komprehensif yang harus diwujudkan dalam rangka upaya
melaksankan misi tersebut. Sasaran harus tepat sesuai dengan mutu pendidikan
yang diharapkan.
Mengenai unsur –
unsur yang tidak mendukung pada sasaran dan pencapaian mutu harus dihilangkan,
Adapun tujuan pendidikan tinggi merupakan perwujudan dari implementasi visi dan
misi secara baik, sehingga akan mampu memberikan pendidikan kepada masyarakat
sesuai dengan kebutuhan dan standar yang dituntut oleh pihak yang
berkepentingan, baik secara internal maupun eksternal, termasuk pasar lapangan
kerja.
Dalam kasus
serupa dengan fenomena di atas misalnya terjadi pada riset Joshua Earnest yang
memperlihatkan bahwa munculnya model peningkatan mutu melalui rekayasa
kurikulum yaitu Competency based engineering curricula muncul akibat adanya
perubahan dan tuntutan mutu atas kekurangmampuan lulusan teknik dalam memasuki
dunia kerja (Earnest, Joshua. 2001: 22). Dalam konteks relasi dengan ekternal,
jaminan mutu difungsikan sebagai alat yang digunakan oleh pendidikan tinggi
untuk meyakinkan bahwa lulusannya dapat diterima di lembaga lain sekaligus
sebagai bentuk pertanggungjawaban publik penyelenggaraan kepada masyarakat atas
tawaran program pendidikan.
Beberapa alasan
mengapa perguruan tinggi termasuk di dalamnya Perguruan tinggi Islam harus
memusatkan perhatiannya pada mutu sehingga harus mengagendakan penjaminan mutu
sebagai hal yang harus dikerjakan segera dan diupayakan secara terus menerus:
1.
Perhatian yang semakin meluas tentang besarnya dana
masyarakat yang terserap dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi sampai-sampai
alokasi yang seharusnya untuk sektor lain oleh masyarakat direlakan untuk
pendukung penyelenggaraan pendidikan.
2.
Perhatian terfokus pada kompetisi ekonomi masa depan dan
karenanya dibutuhkan adanya pekerja yang berkualitas dan mempunyai kompetensi
tinggi di masyarakat pasca industri.
3.
Masalah pemantauan input – proses dan output pendidikan
tinggi dalam sistem manajemen yang semakin inovatif dan yang semakin cepat
tidak boleh terhambat oleh menyusutnya sumber-sumber daya baik manusia maupun
sumber alam.
4.
Adanya gerakan internasionalisasi perguruan tinggi yang
semakin kuat dalam penerapan standar penilaian dan pengukuran untuk kemampuan
dasar maupun kesamaan kualifikasi akademik profesi khususnya bagi
5.
Adanya komitmen beberapa tempat atau negara untuk
mengembangkan layanan publik yang lebih efisien, lebih tanggap sesuai dengan
kebutuhan langganan.[44]
Pandangan, kepercayaan, dan kepuasaan kini dijadikan sebagai
kunci berkembangnya sebuah penjaminan mutu Perguruan tinggi di manapun,
sehingga pihak pendidikan tinggi UIN Jakarta saat ini, baik secara nyata maupun
tersamar mulai mengembangkan jaminan mutu (quality assurance). Tidak ada
jaminan bahwa keberadaan sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam yang hari ini
megah bangunannya dengan jumlah mahasiswa yang besar esok hari tetap mampu
bertahan, dalam hal ini UIN Jakarta menunjukan fakta tersebut. Fenomena inilah
yang dipertegas oleh Jennings bahwa tidak jaminan perguruan tinggi untuk
bertahan di hari esok bila tidak memperhatikan mutu.
Semua komponen tersebut
memerlukan pengaturan yang jelas dan tegas seiring dengan perkembangan teori teori yang ada dalam manajemen. Oleh karenanya pembahasan
pembahasan yang berkaitan dengan mutu perlu secara holistik utamanya tekait
dengan manajemen mutu terpadu. Konsep Manajemen mutu terpadu dalam pendidikan
boleh dibilang relatif baru. Sebagaimana yang terjadi dengan IAIN yang berubah
menjadi UIN, hal ini tentu tidak serta-merta dilakukan perubahan secara
mendadak di segala aspek yang memberikan implikasi pada kelangsungan sistem
pendidikan dalam civitas akademika lembaga tersebut. Dalam prakteknya,
perubahan dari IAIN menjadi UIN memerlukan berbagai perbaikan demi mencapai
percepatan dalam adaptasinya terhadap perkembangan dan persaingan global dalam
segmen pendidikan tinggi. Keberadaan atau eksistensi dari visi dan misi dalam
sebuah lembaga atau organisasi tetap menjadi pijakan serta landasan pacu untuk
lengkah pada jenjang yang lebih jauh.
Renstra UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta 2012-2016 ini disusun sebagai kelanjutan dari
Renstra sebelumnya dan memberikan arah bagi 2 (dua) Renstra periode berikutnya,
demi terwujudnya peningkatan yang berkelanjutan (continuous improvement).
Oleh karena itu, Renstra ini juga mengidentifikasi berbagai peluang, ancaman,
kekuatan, dan kelemahan berdasarkan pada analisis terhadap kondisi eksternal
dan internal,yang menjadi dasar perumusan kebijakan dan program pengembangan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2012-2016.
Sebagai dokumen
perencanaan satuan kerja (sakter) perguruan tinggi yang bernaung dalam
Kementrian Agama, Renstra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2012-2016 disusun
dengan mengacu kepada Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 dan Tata Cara Penyusunan Renstra
Kementrian/Lembaga dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006. Adapun
secara substansial, penyusunan Renstra UIN Syarif Hidayatullah 2012-2016
memperhatikan keselarasan antara kebijakan dan program dalam Renstra dengan
kebijakan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam dokumen-dokumen
perencanaan pembangunan, yaitu: pertama, Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN) 2005-2025; kedua, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2010-2014; ketiga, Renstra Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014;
keempat, Renstra Kementerian Agama 2010-2014; kelima, Renstra Direktorat
Jendral (Ditjen) Pendidikan Islam 2010-2014; keenam, Renstra ini merupakan
kesinambungan dari Renstra UIN Jakarta sebelumnya (2007-2011); ketujuh, Master
Plan pengembangan UIN Jakarta; dan kedelapan, Organisasi dan Tata Kerja UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013. Di samping itu pula mengacu kepada
Renstra, Permenag.No.13 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.[45]
Sebagai Penguatan kelembagaan yang
mengacu kepada Implementasi Sistem Manajemen mutu, Sosialisasi Sistem msnsjemen
stratejik, serta Draft Permenag tentang UIN Jakarta menjadi WCU.
Dalam kedudukan
tersebut di atas, Renstra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2013-2016 berfungsi
sebagai pedoman dan bersifat mengikat bagi seluruh unit kerja di lingkungan UIN
Jakarta dalam penyusunan, pelaksanaan, dan monitoring serta evaluasi program
dan kegiatan. Di samping itu ia juga berfungsi sebagai panduan dalam penyusunan
Rencana Strategis Fakultas, Sekolah Pascasarjana serta semua unit/lembaga di
lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta saat ini telah berusia 56 tahun.
Selama kurun waktu tersebut, lembaga pendidikan ini telah menjalankan mandatnya
sebagai institusi pembelajaran dan transmisi ilmu pengetahuan, sebagai institusi
riset yang mendukung proses pengembangan ilmu dan pembangunan bangsa, dan
sebagai institusi pengabdian masyarakat yang terus menerus mendorong program-program
peningkatan kesejahteraan sosial. Selama itu pula UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
telah melewati beberapa periode sejarah yang sehingga pada saat ini telah
menjadi salah satu ikon Universitas Islam di Indonesia.
Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu perguruan Islam
terbesar di Indonesia, mengemban amanat umat Islam Indonesia untuk menjadi
salah satu perguruan tinggi unggulan, perkembangannya merupakan cerminan dari
transformasi masyarakat Muslim Indonesia secara tidak langsung, yang diwakili
kaum santri. Di satu sisi perkembangan serta kemajuannya merupakan kebanggaan
tersendiri bagi UIN Jakarta, dismping itu pula juga membawa banyak
tantangan yang harus dihadapi.
Sebagaimana
Rencana Strategis UIN 2012-2016 adalah mileston pertama dari rangkaian tiga
milestones UIN Jakarta menuju visi jangka panjang menjadi World Class
University (WCU).
Pada 2016,
dimana renstra ini disusun berdasar pertimbangan hasil evaluasi sekaligus
memperhatikan kebutuhan strategi UIN jangka panjang. Adapun kerangka
pengembangan menuju World Class University UIN Jakarta memiliki komitmen untuk
mengembangkan lembaga pendidikan Tinggi Islam kelas Dunia adalah Universitas yang
mendapatkan pengakuan global, yang ditandai dengan reputasi akademik yang
unggul dan handal, lulusan yang berdaya saing, jumlah sitasi dosen yang tinggi,
rasio dosen dan mahasiswa yang ideal, serta jumlah mahasiswa dan dosen asing
yang memadai.
Hal ini sesuai
dengan visi UIN “menjadikan UIN Syarif Hidayatullah sebagai lembaga pendidikan
tinggi terkemuka dalam mengintegrasikan aspek keilmuan, keIslaman dan keIndonesiaan.”
G.
Kerangka
Teori
Kerangka teori
disini sebagaimana uraian di atas adalah dalam upaya mengeksplorasi dan
memaparkan pendapat-pendapat dari berbagai teori dan dari beberapa perspektif
keilmuan yang akan dijadikan acuan dalam penelitian ini.
Dalam hal ini,
Salis mengemukakan suatu pendekatan dalam pengaplikasian manajemen mutu dalam
suatu organisasi, yakni sebagai suatu filosofis dan suatu metodologi untuk membantu
dan mengawal perubahan, sebagaimana inti dari Total Quality Management (TQM)
adalah penekanannya pada perubahan budaya.[46]
Dalam upaya
menciptakan fungsi pemroses kelulusan dalam hal ini adalah dosen sangat penting
perannya, bagaimana cara menyelesaikan tugas-tugas dan fungsi sebagai tenaga
edukatif yang professional yang betul-betul mampu mengembangkan ilmu
pengetahuan kepada masyarakat luas. Kemampuan dosen harus selalu diselaraskan
dengan perubahan dan tuntutan yang ada, sebagaimana Ulrich.[47]
Ada empat keutamaan dalam kepemimpinan agar selalu mencapai “champion” yaitu;
1)
Menjadi partner
dan rekan yang stratejik.
2)
Menjadi seorang
ahli/pakar yang mempunyai kapabilitas yang handal.
3)
Menjadi sosok
pekerja keras dan ulung.
4)
Menjadi pelopor
“agent of change.”
Dengan
keterlibatan empat poin di atas, tentunya diharapkan mampu mewujudkan manajemen
yang bermutu untuk memenuhi apa yang disebut dengan kepuasan pelanggan,
mempunyai obsesi yang tinggi terhadap kualitas, mampu menerepkan pendekatan
ilmiah, dan pengambilan keputusan serta pemecahan masalah, memiliki komitmen
jangka panjang, memperbaiki proses secara berkesinambungan.
Selain daripada itu, dalam mwujudkan kegiatan pelaksanaan
penjaminan mutu pada lingkungan Perguruan tinggi Islam ini sangat wajar bila perguruan
tinggi yang masih memusatkan diri dalam pembenahan sistem kepemimpinan, ada
pula yang sudah mengembangkan diri pada tahapan aktualisasi diri dengan lebih
melebarkan program unggulan. Keragaman pelaksanaan penjaminan mutu untuk
Perguruan tinggi Islam lebih menampakkan variasi dibanding pada Perguruan
tinggi umum, sebab selain karena keragaman kondisi, juga mutu Perguruan tinggi Islam
negeri sendiri sangat tinggi juga kesadaran atas mutu dari masing-masing
pimpinan lembaga tinggi Islam juga berbeda-beda. Kemandirian perguruan tinggi Islam
negeri ikut serta mempengaruhi corak variasi pelaksanaan penjaminan mutu di
tempat masing-masing.
Keadaan internal lembaga pendidikan tinggi Islam negeri yang
beragam tanggapannya atas keberadaan penjaminan mutu inilah yang menyebabkan
model penjaminan mutu juga berlainan. Di samping itu juga, karena model jaminan
mutu banyak jenisnya dengan sendirinya perguruan tinggi bisa memilih mana yang
dianggap sesuai dengan keadaan dan kemampuan perguruan tinggi setempat. Adanya
otonomi perguruan tinggi swasta turut juga menyebabkan model penjaminan mutu
yang dianut menjadi berbeda satu dengan lainnya. Pelaksanaan penjaminan mutu
pendidikan tinggi dipastikan tidak akan memiliki kesamaan antara satu lembaga
dengan lainnya.
H.
Metodologi
Penelitian
Metode
yang dipergunakan adalah metode penelitian Grounded Theory di mana penelitian
kualitatif yang mengunakan sejumlah prosedur sistematis guna mengembangkan
teori-teori yang ada, pendekatan grounded theory merupakan metode ilmiah,
karena prosedur kerjanya yang dirancang secara cermat sehingga memenuhi
kriteria metode ilmiah, yang dimaksud kriteria di sini adalah adanya
signikansi, kesesuaian antara teori dan observasi, dapat digeneralisasikan,
dapat diteliti ulang, adanya ketepatan dan ketelitian serta bisa dibuktikan. Metode
ini juga disebut dengan teoritisasi data. Teoritisasi adalah sebuah metode
penyusunan teori yang berorentasi pada tindakan atau interaksi, hal ini cocok
untuk penelitian terhadap prilaku yang
didalamnya termasuk pelaku manajemen. Penelitian ini akan menghasilkan rumusan
teoritis tentang suatu realitas, yang terdiri dari sejumlah atau sekelompok tema-tema
yang mempunyai keterkaitan. Melalui cara ini, konsep dan hubungan tema-tema
tersebut tidak hanya dapat diberlakukan
secara umum, tetapi juga diuji sementara.
Sebagaimana
yang dikatakan oleh Strauss dan Corbin.: ”The
grounded theory approach is a qualitative research method that uses a
systematicset a procedures to develop an inductively derived grouded theory about
a phenomenon. The research findings constitute a theoretical formulation of the
reality under investigation, rather than consist of a set of number , or a
group of loosely related themes. Through this methodology, the concepts and
relationships among them are not only generated but they are also provisionally
tested. The procedures of the approach are many and rather specific, as you will
see.”[48]
Adapun tujuan dari grounded theory
adalah menyusun teori yang tepat juga memberikan gambaran yang jelas tentang
bidang yang diteliti. Para peneliti bekerja dalam tradisi yang sedemikian rupa
serta berharap teori yang akan dibangun
dapat dikaitkan dengan teori-teori lain dalam disiplin masing-masing dan
mempunyai implikasi yang dapat berguna dalam penerapannya.
Sumber
data yang dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan paradigma kualitatif,
yang berorentasi pada manajemen pengembangan mutu yang terjadi pada peningkatan
produktivitas kelulusan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, penelitian ini meliputi model
strategi yang alam pendidikan, serta cara mendesain sistem kualitas yang dikembangkan
di samping itu juga bagaimana strategi kontrol dalam pengembangan mutu dan
termasuk manajemen dalam meningkatkan produktivitas kelulusan yang dihasilkan. Di
samping itu juga kualitas Manajemen dalam sistem akademik dan sistekm
administrasi UIN juga melibatkan dua bentuk, pertama data pustaka dan data
lapangan. Data pustaka yang dipakai dalam penelitian ini berasal dari berbagai
sumber, baik berupa buku-buku, media cetak, media elektronik, jurnal penelitian
dan juga melaui internet. Adapun data primer
utama yang dipakai dalam penelitian ini diperoleh dari data survey lapangan
baik sumber-sumber yang berasal dari wawancara dosen, karyawan yang berhubungan
dengan pihak akademik serta administrasi.
Selanjutnya,
data-data tersebut dianalisis dengan pendekatan deskriptif analisis. Selain itu
dilakukan analisis komparatif dari data-data tersebut sehingga kesimpulan yang
diperoleh lebih komprehensif. Dalam pendekatan Grounded Theory, teori yang
sudah ada harus diletakkan sesuai dengan maksud penelitian yang sedang
dikerjakan. Ada beberpa penelitian yang bermaksud menemukan teori dari dasar
antara lain:
Apabila
peneliti menghadapi kesulitan dalam hal konsep
pada saat merumuskan masalah. Membangun kerangka berfikir, atau jika
peneliti menemukan teori yang berhubungan dengan teori yang sudah dikenal. Maka
temuan baru itu merupakan sumbangan baru untuk memperluas teori yang sudah ada.
I.
Jenis
Penelitian
Penelitian
yang dilakukan adalah penelitian Lapangan (field research) dimana data data yang diambil bersumber dari data
lapangan baik dari hasil angket dan wawancara kepada informan yang terkait
dengan tema yang penulis bahas, Lokus penelitian ini di Universitas Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta fokus pada segi akademik dan administrasi.
Paradigma yang dipakai di sini adalah paradigma Kualitatif Naturalistik.
Disebut Demikian karena situasi di lapangan penelitian ini bersifat “natural” .
Sebagaimna adanya, tidak dimanipulasi diatur dengan eksperimen atau test.[49]
Naturalistik karena rancangan penelitian
ini yang sesuai untuk digunakan adalah analisa wawancara dan studi kasus untuk
mendapat data langsung dari informan yang ada hubungannya dengan pembahasan
ini.
J.
Pendekatan Penelitian
Pendekatan
penelitian ini berfokus pada Produktivitas kelulusan yang mengakomodir dari
pendekatan – pendekatan Kualitatif dan kuantitatif yang menggunakan sekala
likert sebagai alat pengukuran. Dengan melakukan wawancara terbuka, observasi
langsung menggunakan angket yang disebar
luaskan baik kepada dosen, mahasiswa dan karyawan yang terkait dengan sistem
akademik dan administrasi kampus. Serta melakukan studi dokumen. Kemudian
data-data yang yang diperoleh berdasarkan alat tersebut diatas diperisakan dan
diteliti serta diamati. Selanjutnya
diiterpretasi berdasarkan kemampuan peneliti dengan melihatkecendrungan, arah,
pola interaksi faktor – faktor serta hal –hal yang dapat memacu atau menghambat
perubahan, kemudian merumuskan hubungan baru berdasar pada unsur – unsur yang
ada.[50]
K.
Teknik Pengumpulan Data
Sesuai
dengan Penelitian yang dilaksanakan, maka data–data yang dipakai dikelompokkan
menjadi tiga jenis, agar memudahkan untuk mengklasifikasikan, pertama, data langsung
yang terkait dengan mutu kelulusan, hal ini bagaimana pemimpin dalam mengemban dan mengawal kebijakan
mutu Fakultas. Kedua, data yang terkait dengn kegiatan dosen dan mahsiswa dapat
diperoleh dari dokumen tata usaha dalam bidang akademik. Adapun data mengenai
kualitas mutu peningkatam SDM dapat di peroleh dari wawancara para pimpinan,
Dosen mahsiswa dan kegiatan pendidikan.[51]
Pada bagian yang Ketiga data yang diambil husus mengenai kualitas mutu yang di
amanatkan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmukesehatan dengan melalui wawancara
dari pemimpin fakultas, kepala Tata Usaha, Bagian Akademik Fakultas, para
Dosen, para mahasiswa, sebagai penilaian mutu akreditasi Fakultas yang antara
lain melihat proses belajar mengajar, manajemen pengelolaan Fakultas serta
kultur serta lingkungan termasuk didalamnya pembinaan Asrama. Dalam mengacu dan
memacu produktivitas yang obsesi dan
orientasinya pada kualitas, komitmen adalah suatu sikap (attitude) yaitu
penilaian pribadi ( baik dari pimpinan, dosen, para karyawan dan mahasiswa)
yakni penilaian pribadi, kedalaman emosi serta kecenderungan setuju atau tidak
setuju pada suatu obyek sosial.[52]
L.
Sistematika
Pembahasan
Dalam
sistematika pembahasan disertasi ini
dideskripsikan ke dalam 5 (lima) bab. Pada bab pertama berisi pendahuluan yang
memuat latar belakang masalah, permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian,
kajian penelitian tedahulu, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Pada
bab kedua dideskripsikan konsep strategi pengembangan mutu perguruan Tinggi yang berisi model strategi yang dikembangkan, model
strategi yang dikembangkan dalam UIN Jakarta, gambaran sistem penyatuan ilmu
umum dan Ilmu Agama, strategi pengawasan dalam pengembangan kualitasan peran
manajemen dalam meningkatkan produktivitas kelulusan.
Pada
bab ketiga tentang peningkatan Mutu Akademik dan Administrasi, yakni Filosofi
Manajemen Mutu pada sistem akademik UIN Jakarta, Profil UIN Jakarta, Kualitas
input dan proses yang dipersiapkan, dan Upaya Peningkatan Mutu akademik dan
administrasi UIN Jakarta.
Bab
keempat tentang Mmnajemen mutu dan kualitas kelulusan, yakni berisikan Penilian Mutu dan Kinerja Dosen, Kualitas
Sarana dan Prasarana, Kualitas Lulusan UIN Jakarta di setiap periode, dan analisa
konsep Manajemen Mutu (TQM)
Pada
bab kelima berisi implementasi sistem manajemen, untuk di UIN Jakarta, Peran Aktif Dalam
Pemberdayaan Kelulusan, menjalin hubungan yang kuat, dan faktor pendukung dan
penghambat pelaksanaan,
Pada
bab ke enam, penutup yang berisikan kesimpulan , saran dan rekomendasi serta
tabel tabel terkait.
Outline Disertasi
Adapun rencana
sistematika penulisan laporan penelitian disertasi ini adalah sebagai berikut:
Bab
I. Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Masalah
B. Permasalahan
Penelitian
1.
Identifikasi
Masalah
2.
Pembatasan
Masalah
3. Perumusan
Masalah
C.
Tujuan
Penelitian
D.
Signifikansi dan
Manfaat Penelitian
E. Kajian
Terdahulu yang Relevan
F. Kerangka
Teori
G. Metodologi
Penelitian
H.
Sistematika
Pembahasan
Bab II. Konsep Strategi Pengembangan Perguruan
Tinggi
A. Model
strategi yang dikembangkan dalam UIN Jakarta
B. Gambaran
sistem penyatuan ilmu umum dan Ilmu Agama
C. Strategi
pengawasan dalam pengembangan kualitas
D. Peran
manajemen dalam memperbaiki kualitas
Bab
III. UIN Jakarta dalam peningkatan Mutu Akademik dan Administrasi
A. Filosofi
Manajemen Mutu pada sistem akademik UIN jakarta
B. Profil
UIN Jakarta
C. Kualitas
input dan proses yang dipersiapkan
D. Upaya
Peningkatan Mutu akademik dan administrasi UIN Jakarta
Bab IV. Manajemen Mutu dan Kualitas Kelulusan
A. Penilaian
Mutu dan Kinerja Dosen
B. Kualitas
Sarana dan Prasarana
C. Kualitas
Lulusan UIN Jakarta di setiap periode
D.
Analisa Konsep
Manajemen Mutu (TQM)
Bab V. Implementasi Sistem Manajemen Mutu di UIN Jakarta
A.
Peranan
B.
Peran Aktif
Dalam Pemberdayaan Kelulusan
C.
Menjalin
hubungan yang kuat
D.
Faktor Pendukung
dan Penghambat Pelaksanaan
Bab VI. Penutup
A. Kesimpulan
B.
Rekomendasi
C.
Daftar Tabel
Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrashi, M. Athiyah. Al-Tarbiyah al-Islamiyah.
Bayrut: Dar al-Fikr, 1990.
Alam, Arshad. “The Enemy Within: Madrasa and Muslim
Identity in North India,” dalam Modern Asian Studies. Vol. 42, No. 2,
Januari 2008.
Ali, Maulana al-Alam al-Hajar al-Husain bin Amir
al-Mu’minin al-Mansur bi Allah al-Qhasim bin Muhammad. Adab al-Ulama wa
al-Muta’allim. Bayrut: Dar al-Manahir, 1985.
Ali, Nizar dan Ibi Syatibi, Manajemen Pendidikan
Islam Ikhtiar Menata Kelembagaan Pendidikan Islam. Bekasi, Pustaka Isfahan,
2009.
Anderson, John C. et.al. “A Theory of Quality
Management Underlying the Deming Management Method”, dalam The Academy of
Management Review, Vol. 19 No. 3, Juli 1994.
Becker, Selwin. Management Review Postgraduate
Research Supervision: Transforming Relations. New York, Peter Lang Publishing,
1994.
Bensimon. Total Quality Management in The
Academy: A Rebellious Reading. Harvard Educational Review, Vol. 65, No. 4,
1995.
Biggs, John. The Reflective Institution: Assuring
and Enhancing the Quality of Teaching and Learning. Netherlands: Higher
Education, Vol. 41, 2001.
Bruce Brocka dan M. Suzanne, Quality Management, Implementing
the Best Ideas of the Masters, Bussines One Irwin Home Wood, Illinois, 60430, h.3
Charles M. Savage, Fith Generation Management
Integrating Enterprises Through Human Net Working, 1990.
Cheng, Y. C. School Effectiveness and
School-Based Management: A Mechanism Development, The Falmer Press, London,
1996.
Comite National D’Evaluation. Handbooks of Standards
for Quality Management in French Higher Education Institutions, Paris: 43
rue de la Procession, January, 2006.
Crosby, Quality is free. (New York: New American
Library, 1979), h. 58.
Danim, Sudarwan. Manajemen dan Kepemimpinan
Transformational Kepala Sekolahan, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Edward Sallis, Total Quality Management in Education; Manajemen Mutu Pendidikan, terj. Ahmad
Ali Riadi, et.al., Yogyakarta: IRCiSoD, Cet. IV, 2006, h.74
Emulti D., Kathwala, Y., dan Manippallil, M. 1996.
are Total Quality Management Programs in Higher Education Worth the Effort? International
Journal of Quality and Reliability Management, 13 (6), 29-44. Diakses dari www.emerald-library.com tanggal 8 mei
2001.
Faganel, Armand and Slavko Dolinsek. Quality
Management System in Higher Education, Slovenia: Primorska, 2003.
Fadjar Malik, Holistika
Pemikiran pendidikan, (Jakarta Rajawali Pers, 2005), 61.
Fattah, Nanang. Landasan Manajemen Pendidikan,
Rosdakarya, Bandung. 2000.
Fiedler, B.. Strategic Management for School
Development Leading Your School’s Improvement Strategy, London: A. Sage
Publication Company, 2005.
George R. Terry, Prinsip-Prinsip Manajemen
(Jakarta: Bumi Aksara, 2006).
George R. Terry dalam Winardi. 1986, “Asas-Asas
Manajemen”. Bandung Alumni.
Gesink, Indira Falk. Islamic Reformation: A
History of Madrasa Reform and Legal Change in Egypt, USA: American
Research, 2006.
Goetsch and Davis, Introduction To Total Quality,
(Englewood Cliffs: H.J. Prentice Hall International Inc, 1994), h. 14-18.
Griffin, Rosarii. Education in Muslim World:
Diferent Perspectives, Oxford: Symposium Books, 2006.
HMIE. Quality Management in Education:
Self-Evaluation for Quality Improvement, Denholm House Almondvale Business
Park, Skotlandia: April 2006.
Ho, S.K., dan Wearn, K. 1996. A TQM Model for Higher
Education and Training. Training for Quality Journal, 3 (2), 25-33.
Diakses dari www.emerald-library.com
tanggal 2 agustus 2001.
Hoy, W.K. & C.G. Miskel, Educational
Administration Theory, Research, and Practice, New York: Random House Inc,
2005.
HR. Tilaar, H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru
Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 299-300.
HR. Tilaar, H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru, h.
300.
http://re-searchengines.com/trimo60708.html
Total Quality Management.
http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/29/penerapan
total quality management.htm Diakses oleh Hadiyanto 11 juni 2002.
Idris, Jamaluddin. Analisis Kritis Mutu
Pendidikan, Suluh Press, Yogyakarta, 2005.
Jawwad, M. Ahmad Abdul. Kiat Sukses Menyusun
Target, Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004.
Jawwad, M. Ahmad Abdul. Manajemen Waktu, Panduan
Sukses Diri dan Organisasi, Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004.
Joseph Juran, Quality Planning and Analysis,
(New York: Mc Grew Hill Inc, 1993), h. 32.
M. Manulang, Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta,
Ghalia Indonesia, 2007.
Muhammad. Manajemen
Bank Syari’ah, UPP AMP YKPN Yogyakarya,
2005, h. 188-190. Muhammad, “Paradigma Manajemen Teologis Etis” Jurnal Mukaddimah, Yogyakarta, Kopertais
Wilayah III Daerah Istimewa Yogyakarta.
Soebagio Atmodiwirjo, Manajemen Pendidikan Indonesia ( Jakarta Ardadizya, 200), 273.
Salis, Edward, 1993. Total Quality Management in
Education. Kogan Page, London.
Sharples, K.A., Slusher, M., Swaim, M. 1996. How TQM
Can Work In Education. Quality Progress, May, 75-78. Dari CD-ROM.
Strauss, AL, Corbin, J. (1990). Basics of qualitative research: grounded theory procedures and
technique . Newbury Park: Sage Publications.
Tampubolon, Perguruan Tinggi Bermutu,, h.
118-120.
Ulrich, Human Resources Champion. Harvard,
Business School Press, 1997. Hal. 151-153.
W. Edward Deming, Out of the Crisis, yang
dipublikasikan pada tahun 1982.
Woon, K.C. 2000. TQM Implementation: Comparing
Singapore’s Service and Manufacturing Leaders. Managing Service Quality,
10 (5), 318-331. Diakses dari www.emerald-library.com
tanggal 12 agustus 2001.
Zeithaml, V.A. 2000. Service Quality, Profitability,
and the Economic Worth of Customers: What We Know and What We Need to Learn. Journal
of the Academy of Marketing Science, 28 (1), 67-85. Dari CD-ROM.
[1] Jamaluddin al Afghani
adalah seorang tokoh Pan Islamisme(persatuan seluruh umat Islam) dan pembaharu
paling berpengaruh di abad 19 M. Ia lahir di Afghanistan dan meninggal di
Istambul. Pan Islamisme adalah sutu faham yang bertujuan untuk menyatukan umat Islam seluruh dunia.
Ide ini dicetuskan oleh Jamaluddin yang erat kitannya dengan kondisi umat Islam
pada saat itu. Ia menyaksikan kemundiran
dunia Islam dan dunia Barat sedang dalam kemajuan serta menjajah dan menguasai Negeri-negeri
muslim. Ia melihat bahwa kemunduran umat islam bukanlah karena Islam tidak
sesuai dengan perkembangan zaman, melainkan dipengaruhi oleh sifat statis,
menyerah kepada nasib, berpegang kepada taqlid, meninggalkan akhlaq yang
tinggi, dan melupakan pendidikan dan ilmu pengetahuan. menurutnya Islam
meghendaki agar umat bersifat dinamis, aktual, kekinian berakhlak mulia dan
cinta ilmu. Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, baik ibadah , hukum, maupun
kekuasaan. Karyanya yang termasyhur Ar Raddu ‘Alad Dahriyyin (jawaban
kepada kaum atheis) ditulis dalam bahasa Persi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa
Arab. lagi karya
[2] Muhammad Abduh adalah
pembaharu pemikiran Islam yang sangat berpengaruh, berasal dari Mesir,
pengaruhnya sangat luas baik di Al Azhar
maupun ke seluruh dunia Islam,
termasuk Indonesia. Pada tahun 1877 ia
menyelesaikan studinya di Al Azhar dengan mendapat gelar Alim, ia mulai mengajar
di Al Azhar dan Darul Ulum, Abduh
merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam pebaharuan dalam pemikiran di
dunia Islam, banyak sekali murid murid Abduh yang menjadi penerus upaya
pembaharuan, antara lain : Rasyid Ridla, Al Maraghi, Tanthawi, Qosim Amin,
Muhammad Husein Haikal, Musthafa Abdur Razik, Ali Abdur Razik, Farid Wajdi,
Sa’ad Zaghlul (Bapak kemerdekaan Mesir). Ia menyetujuai pendapat penulis barat,
bahwa kemunduran umat Islam disebabkan oleh faham Jabariyah (fatalisme), Dalam
Majalah Al Urwah Al Wusqa bersama Afghani menjelaskan bahwa faham qadla dan
qadar telah diselewengkan menjadi fatalisme. Fatalisme harus dirubah dengan faham kebebasan manusia dalam kemauan
dan perbuatan, menurutnya peran pendidikan sangat penting sekali. Karyanya yang
termashur ; Al Islam Din Al Ilm Wa Al Madaniyah, dalam buku ini
dibahas tentang kemunduran umat yang
disebabkan “Jumud” dan upaya untuk mengembalikan kepada Islam yang sebenarnya, Risalah
Al Tauhid, berbicara tentang ketinggian akal, Tafsir Al Manar dll.
[3] Lihat Muhammad, Manajemen Bank Syari’ah, UPP AMP YKPN
Yogyakarya, 2005, h. 188-190. Muhammad,
“Paradigma Manajemen Teologis -Etis” Jurnal
Mukaddimah, Yogyakarta, Kopertais Wilayah III Daerah Istimewa Yogyakarta.
[4] M.Quraish Shihab dalan tafsir Al-Misbah “ al-amr bi
al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar” Wahai seluruh umat Muhammad dari generasi ke generasi
berikutnya, sejak dahulu dalam pengetahuan Allah adalah umat yang terbaik, karena adanya
sifat-sifat yang menghiasi diri kalian, Umat yang dikeluarkan yakni diwujudkan dan di nampakkan untuk
manusia sjak Adam sampai ahir zaman. Ini
karena kalian adalah umat yang terus menerus tanpa bosan menyuruh kepada yang
ma’ruf, yakni apa yang dinilai baik oleh masyarakat selama sejalan dengan nilai
–nilai Ilahi, dan mencegah yang munkar, yakni yang bertentangan dengan
nilai-nilai luhur, pencegahan yang sampai pada batas menggunakan kekuasaan dank arena kalian beriman kepada Allah ,
denganniman yang benar sehingga atas dasarnya kalian percaya dan mengamalkan
tuntunan-Nya dan tuntunan Rasulnya serta melakukan amar makruf dan nahi mungkar itu
sesuai dengan cara dan kandungan yang diajarkannya. Inilah yang menjadikan kalian meraih kebajikan.
[5] Hadis diriwayatkan
oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Imam. No. 4929 teks
hadisnya:
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: " أَرْهِقُوا الْقُلَّةُ " قَالَ أَبُو حَفْصٍ: - يَعْنِي مُطَيَّنٌ،
أَيِ ادْنُوَا إِلَيْهَا - فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
" إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ
أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ "
Imam Baihaqi lahir di
Khasrujard, 994/384 H, wafat di Naysabur 1066/458 H, nama lengkapnya adalah Abu
Bakar Ahmad bin Husaian bin Ali bin Abdullah al-Baihaqi, adalah seorang Ulama
ahli Hadis, ushul Fiqh dan Fiqh, salah seoarng tokoh utama dalam madzhab
Syafi’I, Ia mempelajari hadist dan mendalami Fiqh madzhab Syafi’I, dalam hal
akidah mengikuti madzhab Asy’ari, Dalam mencari ilmu ia mendatangi para Ulama
di Baghdad, Kuffah dan Mekkah, sebelum akhirnya kembali ke Baihaq, ia mengajar
di Naysabur, dan menjadi orang pertama yang mengumpulkan naskah –naskah Fiqh
Imam Safi’I. Imam al-Haramain al-Juwaini berkomentar tentang pemahaman Imam
Baihaqi terhadap Madzhab Syafi’I “ tidak ada pengikut madzhab Syafi’I yang
mempunyai keutamaan melebihi Baihaqi karena karyanya dalam mengembangkan
madzhab dan pendapat Syafi’i., sedang komentar Imam adz-Dzahabiberkata mengenai
keluasan ilmunya, bahwa kalau Imam Al-Baihaqi menghendaki, maka ia mampu
membuat madzhab sendiri karena keluasan ilmu dan pemahamanya. Karya karyanya Al-Sunan al-Kubra, Ma’rifa al-Sunnah wa
al-thar, Al-Mabsut , Al-Asma’ wa al-Sifat, Al-I’tiqad ala Madzhab, Syu’ab al
Imam, Al-Da’awat al-Kabir. Dan lain lain.
[6] Bruce Brocka dan M. Suzanne, Quality Management, Implementing the Best Ideas of the Masters, Bussines
One Irwin Home Wood, Illinois, 60430,
h.3.
[7] Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi, Pedoman Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
Jakarta :2003
[8] http://www.portalgaruda.com/Jurnal/35/aplikasi
manajemenmutu.htm Diakses oleh 20 April 2015
[10] Sadlak Jan. Studies on Higher
Education prepare in indicators for institutional and programs, accreditations
in Higher education,Bucharest: CEPES UNESCO, 2004, h. 45
[11]Edward Sallis, Total Quality Management
in Education; Manajemen Mutu Pendidikan,
terj. Ahmad Ali Riadi, et.al., Yogyakarta: IRCiSoD, Cet. IV, 2006, h.74.
[12] http://re-searchengines.com/trimo60708.html
Total Quality Management.
[13] Joseph Juran, Quality
Planning and Analysis, (New York: Mc Grew Hill Inc, 1993), h. 32.
[14] Crosby, Quality is free. (New
York: New American Library, 1979), h. 58.
[15] Goetsch and Davis, Introduction
To Total Quality, (Englewood Cliffs: H.J. Prentice Hall International Inc,
1994), h. 14-18.
[16] J.
Winardi, Motivasi dan Pemotivasian dalam manajemen. Jakarta: Rapi
Grasindo persada, 2001, h. 65
[17] W.
Marsono. Aplikasi Konsep Mutu Pendidikan Tinggi. Yogyakarta : Kantor
Jaminan mutu UGM, 2002, h. 21
[18] Dalam kaitan ini, Ahmad Sanusi menekankan
rasa tanggung jawab pada adanya kemandirian dalam bentuk kemampuan
mengambil keputusan yang mengandung wibawa pendidikan baik secara akademis
maupun kualitas guru dalam melaksanakan tugas akademik serta penguasaan
keahlian teknis, yang secara spesifik ditunjuk Achmad Sanusi, dengan kemampuan
dasar mengenai keguruan, yakni kemampuan membelajarkan siswa yang untuk saat
sekarang merupakan suatu conditio sine qua non untuk memiliki penguasaan
iptek modern dalam arti konsep, proses dan dasar filosifinya. Lihat Ahmad
Sanusi, Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan, (Bandung: FPS IKIP Bandung,
1990), h. 24.
[19] Abdurrhman Al-Nahlawi, Ushul
al Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha fi al baiti wa al madrasati wa al mujtama’,
Darul Fikri Al Mu’asyir, Bairut, Libanon, 1403 Hijriyah / 1983 Masehi. , h.
205-207.
[20] Athiyah Al-Abrasy, Al-Tarbiyah
al-Islamiyah, (Dar Al Misriyah, 1967), h. 131-135.
[21] Tampubolon, Perguruan Tinggi
Bermutu,, h. 22.
[22] Shoji Shiba, Alan Graham, and
David Walden, A New American TQM: For Practical Revolution in
Management, (Portland: Productivity Press, 1993), h. 50.; Meskipun
demikian, ada beberapa difinisi yang dapat dijadikan sebagai acuan. Di
antaranya pendapat Crosby, mengatakan bahwa mutu atau kualitas diartikan
kesesuaian pada persyaratan (quality is comformance to requirement).
Lihat Philip B. Crosby, Quality is Free: The Art of Making Quality Certain, (New
York: Mc. Graw Hill Book Company, 1978), h. 10; Bandingkan J.M. Juran, Juran
On Quality By Design: The New Steps for Planning Quality into Goods and
Service, (New York: The Free Press, 1992), h. 16. Dia berpendapat bahwa
mutu atau kualitas diartikan “kecocokan untuk digunakan” (fit for use). Mutu
atau kualitas juga sering dihubungkan dengan kepuasan dan ketidakpuasan
pelanggan. Sedang deming, mengartikan mutu atau kualitas dengan perbaikan
berkesinambungan (continous improvement).
[23] Tampubolon, Perguruan Tinggi
Bermutu,, h. 118-120.
[24] HR. Tilaar, H.A.R. Tilaar, Paradigma
Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 299-300.
[25]Hardyan Setiadi, Peningkatan Kemampuan dalam
Pendidikan Tinggi, (Bandung: Pustaka Azzam, 2000), h. 25.
[26] HR. Tilaar, H.A.R. Tilaar, Paradigma
Baru, h. 300.
[27] http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/29/penerapan
total quality management.htm Diakses oleh Hadiyanto 11 juni 2002.
[28]Judul asli buku tersebut adalah Die Protestantiche Ethic und der Geist des
Kapitalismus ( Bahasa Jerman), yang pertama kalinya diterbitkan dalam Archiv fur Socialwissenchaft und Sozialpolitik, Volume XX dan XXI.
Buku yang dijadikan referensi dalam
penelitian ini adalah Max Weber, The
Protestan Ethics and spirit Of
Capitalism. Translated by Talcon Parsons ( London: Unwin Hyuman, 1989).
[29] Dialihbahasakan ke dalam bahasa
Indonesia oleh Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrazi dengan judul Manajemen Mutu Pendidikan, ( Jogjakarta
: IRCisoD, 2006) Cet. II.
[30][30][30]
Edwar Sallis, Total Quality Management in Education (London
Kogan Page 1993.Shaples.dkk “ How TQM
Can Work in Education dalam Quality progress.(May 2003). 251
[31] Edward Sallis in Total Quality Management Education, Manajemen Mutu Pendidikan, (
Jogjakarta : IRCisoD, 2006) Cet. I, h. 96-100.
[32] M.P. Peak, Total
Quality Managemen Transforms The Class: Managemen Review (New York : Quality
Resources, 1994)
[33] http://www.portalgaruda.com/manaejemenmutu
terhadap kualitas output/ diakses tangga; 26 april 2015
[34] The conceo of TQM is
applicable to academics, Many education that the Deming’s concept of
TQMprovides guiding principles for needed educational reform. The quality
Revolution in Education, John Jay Bonsting Outline the TQM Principleshe
believes . Dari sumber: Applaying TQM in Academics Dheeraj Mehrotra, from
http://www.isixsigma.com/Library/con.
[35] Vincent Gasperz, Quality of Management. Yang
kemudian hasil penelitian ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan
diterbitkan dalam edisi Indonesia yang berjudul, Manajemen Kualitas, (
Jakarta: PT. Gramedia, 1998).
[36] Kapuge and Smith. Penelitian
yang berjudul .Managemen Practices and Performance reporting in the Srilanka
apparel Sector. 2007 .Penelitian yang mengkaji tentang implementasi TQM
pada perusahaan apparel di Srilanka . Dimana hasil penelitian ini menyatakan
bahwa adanya perbedaan terkait kinerja yang dihasilkan antara perusahaan atau
instansi yang menerapkan TQM dengan perusahaan atau instansi yang tidak menerapkan TQM. Hasil penelitian
mereka juga menunjukkan bahwa dengan menerapkan praktek manajemen dengan
pendekatan TQM akan mmpengaruhi kinerja perusahaan atau instansi secara
signifikan.
[37] Fion Lim C.B., “Quality
Assurance of Australian Offhore Education: The Complexity and Possible
Frameworks for Understanding the Issues,” dalam Post-Script: Postgraduate
Journal of Education Research, (Vol. 8, No. 1, August 2007), 19-36;
Department of Education, Training and Youth Affairs, The Australian Higher
Education Quality Assurance Framework, (Australia: Occasional Paper Series
2000-H, Commonwealth of Australia, 2000), 51-67; Jouni Kekale, “Quality
Assesment in Diverse Disciplinary Settings,” dalam Higher Education,
(Vol. 40, No. 4, December 2000, Kluwer Academic Publisher, Netherlands),
465-488; David Billing, “International Comparisons and Trends in External
Quality Assurance of Higher Education: Commonality or Diversity.” Dalam Higher
Education, (Vol. 47, No. 1, January 2004, Kluwer Academic Publisher,
Netherlands). 113-137; David Pardy, Quality Assurance, (Conference Paper
CP516, Blagdon, The Staff Colledge, January 1992), 24; Edward Sallis dan Peter
Hingley, College Quality Assurance Systems, (Mendip Paper MP 020,
Blagdon, The Staff College, 1991), 35.
[38] Sim K.L. and Killough L.N. (1998), The
Performance Effect Complementarities Between Manufacturing Practices and
Management Accounting System. Journal of Management Accounting Research. 10
PP. 325-346.
[39] W. Edward Deming, Out of the
Crisis, (Combridge University Press, Combridge, 1986), 32; W. Edward Deming, Quality, Productivity
and Competitive Position, (Combridge: MIT, Center for Advanced Engineering
Study, 1982), 21; M. Walton, The Deming Management Method, (New York:
Putnam, 1986), 121-238. Adalah dianggap sebagai bapak dari gerakan total
quality management yang ajarannya terlibat semua tingkatan karyawan dalam
mengukur kontrol kualitas, teori Deming pada kontrol kualitas memicu
pembaharuan ekonomi Jepang dan meluncurkan gerakan menejemen kualitas total.W.E
Deming adalah guru mutu penemu pertama dari TQM setelah perang Dunia kedua.
Disamping itu juga penemu Syistem of Profound Knowledge. Sistem
pengetahuan mendalam merupakan konsep filosofis
yang terdiri dari empat komponen yang utama , empat komponen tersebut
perlu dikuasai oleh pemimpin:. Pemahaman
tentang sistem (sistem adalah sekumpulan
komponen yang saling berhubungan secara teratur dan bekerjasam a untuk
tujuan bersama), Teori keberagaman harus
mampu terakomodir ke dalam suatu sistem yang baik, Teori pengetahuan adalah suatu teori pengetahuan dikembangkan dengan
menyatakan suatu teori (hipotes a) yang
bisa dibuktikan dengan data empiris , jika dalam pembuktian benar, maka teori
itu menjadi pengetahuan, Teori psikologi
yang nantinya akan membantu kita
memahami pikiran , perasaan serta prilaku manusia yang berhubungan dengan
manusia dan hubungan manusia dengan sistem yang melingkupinya.
[40] http://www.Depdiknas.go.id/Jurnal
/29/penerapan total quality managemen.htm Diakses oleh Hadiyanto 11 Juni
2002
[42] Soebagio Atmodiwirjo, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta : Ardadiya, 2005), 273
[43] A. Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan, (Jakarta Rajawali Pers, 2005), 61.
[44] Suaniz Cocka, Quality
Management, Implementing the Best Ideas of the Masters, Deram Books LLC,
Manhattan, 45578, h. 57
[45] Laporan Kinerja UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013
[46] Salis, Edward, 1993. Total
Quality Management in Education. Kogan Page, London.
[47] Ulrich, Human Resources
Champion. Harvard, Business School Press, 1997. Hal. 151-153.
[48] Strauss, AL, Corbin, J. (1990). Basics of qualitative research: grounded
theory procedures and technique . Newbury Park: Sage Publications.
[49] S. Nasution . Mettode
Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung : Penerbit Tarsito 1988), h.29
dan h.31.
[50] Noeng Muhajir, Metodologi
Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990).h.60-61; Bandingkan
dengan Nasution, h. 127.
[51] Egon G. Guba, Menuju
Metodoloi Inkuiri Naturalistik Dalam Evaluasi Pendidikan (Jakarta
Djambatan, 1987), h.202.
[52]David Krech.Et.al. Individual
in Society, (Tokyo:McGraw-Hill Kogakusha, 1982), h.277
Tidak ada komentar:
Posting Komentar