Rabu, 20 Januari 2016

Contoh Proposal Disertasi Tentang Total Quality Management



BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah
 
Kesadaran ini telah mulai digulirkan oleh tokoh pembaharu muslim pada akhir abad ke-19 yang dimotori oleh Jamâluddin al-Afghânî (1839-1897 M).[1] Muhammad ‘Abduh (1845-1905 M).[2] dan tokoh pembaharu muslim lainnya. Kesadaran ini dimulai dengan melakukan gerakan Islamization for Knowledge dalam segala bidang kehidupan, meliputi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bidang kehidupan lainnya. Hal ini sejalan dengan Islam yang mengusung visi sebagai agama rahmatan lil ‘âlamîn.


            Manusia sebagai titik sentral organisasi mendapatkan perhatian yang cukup serius dalam Islam, karena manusia adalah wakil Tuhan di dunia yang menerima mandat untuk mengatur segala aktifitas kehidupan agar berlangsung dengan seimbang sesuai dengan peraturan-Nya (sunnatullah). Untuk menjalankan proses tersebut Islam memberikan rambu-rambu prinsipil yang harus ditegakkan.[3]
Prinsip al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ‘an al-munkar.[4] Bahwa setiap muslim wajib melakukan perbuatan yang ma’ruf, yaitu perbuatan yang baik dan terpuji, seperti halnya tolong menolong (ta’âwun), menegakkan keadilan diantara manusia, termasuk mempertinggi efesiensi, menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya, dan lain lain.
Manajemen sebagai suatu metode pengelolaan yang baik dan benar, untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan itu juga bagian dari menegakkan amar ma’ruf. Kewajiban  menegakkan keadilan kapan dan di manapun, segala perbuatan, harus adil kepada dirinya dan adil terhadap orang lain.Kewajiban menyampaikan amanah, termasuk amanah dalam melayani dan memuaskan semua pihak yang terkait. Dalam sudut pandangan Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis  yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, “Sesungguhnya Allah, sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan dilakukan secara itqan (cepat, terarah, jelas dan tuntas) HR. Baihaqi.[5]
Di dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari Abu Ya’la, Rasulullah SAW, bersabda, “Allah mewajibkan kepada kita untuk berlaku ihsan dalam segala sesuatu”. Kata ihsan bermakna “melakukan sesuatu secara maksimal dan optimal, tidak boleh seorang muslim melakukan sesuatu tanpa terencana, dan pemikiran”.
Allah sangat mencintai perbuatan-perbuatan yang termenej dengan baik, sebagaimana dijelaskan dalam Al -  Qur’an  surah Ash-Shaff ayat 4 :
إِiنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berjuang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Makna kokoh yang dimaksud adalah adanya sinergi secara teratur dan terarah di setiap bagiannya. Jika hal ini terjadi, maka akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Saat ini perkembangan masyarakat yang semakin kompetitif menuntut setiap orang untuk berkompetisi secara sehat, sama halnya dengan sebuah industri bidang jasa termasuk juga dalam pendidikan yang tidak kalah pentingnya harus juga mendapat peluang yang sama, untuk berkompetisi merebut pasar, sehingga setiap organisasi atau instansi harus mengedepankan kualitas dalam proses manajerialnya.
Oleh karena itu, dalam peningkatan kualitas pelayanan di dalam suatu organisasi tentunya harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif, dan efisien dalam proses pembangunan. Kaitannya dengan persoalan kualitas, dewasa ini telah berkembang sebuah pendekatan, khususnya dalam proses manajerial, yaitu Total Quality Management (TQM).
Membahas mengenai Total Quality Management, penulis mengutip pendapat dari Bruce Brocka dan M. Suzanne mengenai Total Quality Management, yaitu : “Quality management or total quality management (TQM) is a way to continuously improvement performance at every level of operation, in every functional area of an organization, using all available human and capital resources[6] Dalam memperbaiki kinerja dan peningkatan kualitas pembaharuan dalam sebuah organisasi dalam segala bidang, tentunya tidak dapat dilepaskan dari dua unsur, yakni manusia dan modal.
Perguruan tinggi di Indonesia walaupun penggarapan dalam bidang penjaminan mutu perguruan tinggi secara formal baru dimulai tahun 2003, yaitu ketika saat munculnya pedoman penjaminan mutu perguruan tinggi yang diterbitkan oleh Dikti Depdiknas, namun sesungguhnya gerakan penjaminan mutu telah ada jauh sebelum itu. Salah satu faktor yang signifikan mendorong adanya gerakan penjaminan mutu di lingkungan perguruan tinggi adalah ditetapkannya HELTS 2003-2010 yang berharap besar untuk pendidikan tinggi nasional dapat menyumbang bagi peningkatan kemampuan kompetisi bangsa serta terwujudnya organisasi perguruan tinggi yang sehat.[7]
Selain itu, manajemen mutu (TQM) merupakan filosofi dan prinsip yang mewakili dasar-dasar perbaikan organisasi secara berkesinambungan. TQM juga merupakan penerapan metode kuantitatif dalam sumber daya manusia untuk memperbaiki material dan pelayanan suatu organisasi yang keseluruhannya memproses dalam organisasi sehingga kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi, baik sekarang maupun yang akan datang. Total Quality Management dapat digunakan untuk menggambarkan dua gagasan yang cukup berbeda, namun saling berkaitan. Gagasan yang pertama adalah filsafat perbaikan secara berkensinambungan. Gagasan yang kedua adalah saling berkaitan dalam menggunakan TQM untuk menggambarkan gak teknis serta strategis, di mana  dalam penggunaannya dilakukan perbaikan kualitas ke dalam tindakan yang saling mengerucut dalam bentukan sikap dari metode yang dilaksanakan secara berkesinambungan.[8]
Dalam perkembangan berikutnya, gerakan penjaminan mutu menjadi semakin cepat tumbuh dalam perguruan tinggi di saat semua skenario pemberian blockgrant harus disertakan adanya kesediaan perguruan tinggi nasional untuk menyelenggarakan penjaminan mutu. Faktor ini merupakan faktor yang paling memacu munculnya wadah-wadah penjaminan mutu pada perguruan tinggi negeri, walaupun akhirnya banyak pelaksanaan penjaminan mutu di Perguruan tinggi negeri Islam terlahir bukan karena dorongan dari internal berupa budaya mutu tetapi sebatas kepentingan pemenuhan administratif persyaratan perolehan blockgrant.[9] Fenomena yang demikian nampak misalnya pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu Perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia. Kehadiran penjaminan mutu, baik akademik dan ideologi sebagai kebutuhan upaya peningkatan kualitas Pendidikan tinggi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Upaya dalam meniscayakan untuk munculnya penjaminan mutu setidaknya diidentifikasi tiga faktor yaitu: (1) perubahan tuntutan pada perguruan tinggi oleh semakin langkanya sumber pendanaan masyarakat yang di dalamnya muncul (2) keharusan adanya akuntabilitas publik serta munculnya (3) persyaratan kualifikasi lulusan oleh pasaran kerja.[10]
Melalui konsep TQM, sebuah organisasi dapat berusaha untuk  meningkatkan kinerja secara berkesinambungan, namun bukan berarti merupakan beban. Pembahasan TQM juga mengenai bagaimana cara untuk melakukan pemenuhnan permintaan dari pelanggan atau klien secara utuh. TQM juga bukan merupakan tugas yang dibebankan semata mata pada pimpinan atau rektor dalam perguruan tinggi, tetapi merupakan tugas bersama siapapun yang terlibat di dalamnya. TQM juga bukan sebuah tugas manajer senior yang selanjutnya memberikan arahan kepada para bawahannya.[11] Shrode dan Voich sebagaimana yang dikutip Fatah, mengatakan bahwa tujuan utama manajemen adalah produktifitas dan kepuasan.[12] Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman.
Sedangkan produktifitas itu sendiri sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa ahli, Juran berpendapat bahwa kualitas adalah kecocokan penggunaan produk (Fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.[13] Crosby mempunyai gagasan yang berbeda, menurutnya kualitas adalah conformance to requirement, yaitu suatu yang disyaratkan. Dalam suatu pengertian prodak memiliki kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang ditentukan. Adapun standar kualitas  yang dimaksud meliputi input, proses dan output.[14]
Hal yang sama juga dijelaskan oleh Goetsch and Davis, bahwa manajemen dikatakan bermutu apabila memenuhi beberapa unsur berikut: 1) kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal; 2) memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas; 3) menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah; 4) memiliki komitmen jangka panjang; 5) membutuhkan kerjasama tim (team work); 6) memperbaiki proses secara berkesinambungan; 7) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan; 8) memberikan kebebasan yang terkendali; 9) memiliki kesatuan tujuan; dan 10) adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.[15]
Kedua pandangan tersebut memiliki kesamaan karena sama-sama menempatkan unsur kepuasan pelanggan, kerja tim, berorientasi jangka panjang, dan pemberdayaan personil perguruan tinggi dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program.
Dalam dunia pendidikan, dua pertanyaan pokok yang penting dikemukakan adalah apa hasil pendidikan dan siapa pemakai hasil pendidikan tersebut? Hasil pendidikan berupa nilai tambah bagi subyek didik, memiliki tingkat kepentingan yang berada antara subyek didik itu sendiri sebagai pemakai kedua, pasar tenaga kerja sebagai pemakai ketiga dan dosen atau staff pendukung sebagai orang yang terlibat dalam proses pendidikan yang justru menggunakan subyek didik itu sendiri.[16]
Dalam hal ini, pada kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta penjaminan mutu tidak sebatas menjaga kualitas akademik tetapi juga kualitas ideologi Islam. Pada kampus UIN Jakarta, aspek mutu ideologi harus dijaga dan dilaksanakan sebab misi UIN Jakarta tidak sebatas menjangkau pada mutu akademik, tetapi harus menghasilkan lulusan yang bermutu secara ideologi keislaman. Itulah sebabnya penjaminan mutu dalam kampus UIN Jakarta tidak hanya sekedar menghasilkan lulusan yang unggul akademik. Meninggalkan mutu ideologi dapat berakibat UIN Jakarta kehilangan kader penerus dan akhirnya dapat runtuh. Selain itu menjaga mutu ideologi dijadikan karakter pembeda dengan lulusan dari perguruan tinggi lain.
Istilah mutu atau kualitas itu sendiri mengandung dua hal. Pertama sifat dan kedua taraf. Sifat adalah sesuatu yang menerangkan keadaan benda sedang taraf menunjukkan kedudukannya dalam suatu skala. Tiap manusia memiliki pandangan yang berbeda tentang sifat dan taraf tersebut. Demikian juga halnya terhadap sifat dan taraf mutu atau kualitas pendidikan. Terdapat deskripsi tentang sifat dan taraf yang berbeda. Deskripsi berdasarkan pendekatan ekonomi dengan penekanan pada relevansi keluaran pendidikan dengan lapangan kerja yang ditampilkan melalui istilah-istilah “siap pakai”, “siap kerja”, dan “siap latih” akan berbeda dengan deskripsi yang memakai pendekatan intrinsik dan instrumental pendidikan. Pendekatan kedua ditampilkan melalui istilah-istilah sikap, kepribadian dan kemampuan intelektual sesuai dengan tuntutan tujuan pendidikan nasional.[17]
Hal demikian berlaku juga pada pemahaman akan mutu atau kualitas suatu perguruan tinggi. Mutu atau kualitas madrasah didefinisikan berdasarkan pendekatan dua dimensi, yakni instrinsik dan instrumental. Pendidikan instrinsik orientasinya substantif sedang instrumental orientasinya situasional dan institusional. Namun demikian, keragaman itu saling lengkap-melengkapi atau saling menafsirkan untuk kemudian jadi satu kesatuan yang menggambarkan postur dosen atau tenaga pengajar yang bermutu atau berkualitas. Benang merah yang menghubungkan dua pendekatan tersebut adalah tugas dan tanggungjawab. Perguruan tinggi  yang bermutu atau berkualitas pada dasarnya adalah pendidikan yang mampu melaksanakan tugas dan fungsi akademiknya secara bertanggungjawab.[18]
Berbeda dengan pengertian mutu atau kualitas pendidik yang menurut pendapat Abdurrahman An-Nahlawi,[19] berkaitan dengan tanggung jawab seorang pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Beliau menyatakan bahwa sifat dan persyaratan seorang pendidik adalah adanya sifat rabbany pada tujuan, perilaku dan pola pikir, kemudian ikhlas, sabar, jujur, membekali diri dengan ilmu serta menguasai teknis mengajar. Sedangkan Athiyah Al Abrasyi,[20] menyebutkannya dengan rangkaian sifat-sifat zuhud, bersih, ikhlas, pemaaf, kebapakan atau keibuan mengenal tabiat mahawsiswa dan menguasai materi perkuliahan.
Meskipun pengertian mutu atau kualitas baik menurut kebahasaan (lughawi) maupun istilah telah tercantum di atas, namun keduanya merupakan dua istilah yang sampai sekarang pengertiannya secara tepat belum disepakati masih saling tarik ulur di kalangan para ahli, sebab menyangkut dua belah pihak yang menggunakan dan menghasilkan. Kedua belah pihak tersebut memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda. Karena itu, susah dipastikan dan sulit digambarkan secara kongkrit tetapi mempunyai indikator-indikator tertentu misalnya kepuasan para penggunanya, tidak heran jika Pretter dan Coote menyebut bahwa kualitas sebagai suatu konsep yang licin (a slippery concept). Perbadaan makna dan penafsiran tentang kualitas ini disebabkan oleh hakikat kualitas itu sendiri yang dinamis dan bernuansa emosional dan moral.[21]
Seperti dijelaskan terdahulu bahwa mutu atau kualitas sebagai suatu konsep dapat digunakan sebagai sesuatu yang absolut dan relatif. Dalam konsep absolut, kualitas diartikan sama dengan kebaikan, keindahan, kecantikan atau sesuatu yang ideal tanpa bandingan. Sedangkan dalam konsep relatif, suatu barang atau jasa dikatakan berkualitas jika telah memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan, tetapi juga harus sesuai dengan keinginan pelanggan.[22] Oleh karena itu, muncul konsep ketiga tentang kualitas menurut definisi pelanggan. Persoalannya adalah pelanggan yang mana, karena pelanggan suatu organisasi tentu banyak dan memiliki keinginan yang berbeda.
Walaupun tidak terjadi kesepakatan pengertian tentang mutu atau kualitas seperti diuraikan di atas, namun Shoji Shiba, Alan Graham, dan David Malden, mengatakan bahwa perkembangan konsep mutu atau kualitas dimulai dengan empat kesesuaian, yaitu: kesesuaian dengan standar, kesesuaian dengan pengguna, kesesuaian dengan biaya dan kesesuian dengan persyaratan yang belum kelihatan.[23] Persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan yang diharapkan oleh para pelanggan yang tentu saja belum kelihatan wujudnya oleh suatu organisasi sebelum produknya dirasakan oleh konsumen.
Berdasarkan beberapa argumen di atas, dapat dimengerti secara pasti, karena menyangkut kepuasan para pelanggan yang memiliki kepentingan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Tetapi setidaknya, mutu atau kualitas sesuatu itu didasarkan pada kesesuaian dengan persyaratan yang sudah ditentukan, baik persyaratan dalam penggunaan, biaya, dan kesesuaian dengan standar tertentu yang akhirnya akan dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan para pelanggan suatu institusi atau organisasi.
Jika batasan mutu atau kualitas tersebut dikaitkan dengan pendidikan, maka kualitas pendidikan ditentukan oleh kesesuaian dengan persyaratan yang telah ditentukan, baik kesesuaian dengan persyaratan akademik, pelayanan, perencanaan dan evaluasi yang merupakan kemampuan pendidikan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.[24]
Karena pendidikan dipandang sebagai investasi sumber daya yang tidak pernah rugi dan sekaligus memiliki nilai tambah yang dipastikan memiliki nilai balik yang menguntungkan. Fenomena demikian mulai menguat pada masyarakat Indonesia yang semakin sadar atas investasi sumber daya manusia untuk kepentingan kompetisi maupun upaya meningkatkan kompetisi serta keunggulan terutama dalam memasuki globalisasi dan kompetisi dalam ekonomi dan mobilisasi status individu melalui pencapaian keunggulan keilmuan dan teknologi serta keunggulan finansial.[25]
Selai itu, mutu atau kualitas pendidikan yang juga seringkali dikaitkan dengan profesionalisasi manajemen. Pendidikan yang bermutu atau kualitas adalah yang mampu memberikan layanan sesuai kebutuhan standar.[26] Dengan demikian, nilai moral/etik dan standar pelayanan menjadi persyaratan bagi mutu atau kualitas belajar di setiap madrasah. Mutu atau kualitas dalam memenuhi kebutuhan pelanggan merupakan keterampilan profesional organisasi yang dikaitkan dengan standar kualitas yang ditetapkan oleh manajemen pada lembaga yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan tersebut. Dalam hal ini kualitas dapat dikelompokkan ke dalam dua skema: pertama, kualitas meliputi tanggungjawab, audit dan penilaian yang dilakukan oleh pihak yang berwenang; dan kedua, peningkatan kualitas lebih dikaitkan dengan pemberdayaan, otorisasi, keahlian, dan keunggulan orang-orang yang dilibatkan. Oleh karena sejalan dengan menejemen perguruan tinggi di Indonesia seyogyanya selalu memandang bahwa proses pendidikan tinggi adalah suatu peningkatan yang terus-menerus (continous educational process improvement), yang dimulai dari sederet siklus sejak adanya ide-ide untuk menghasilkan lulusan (output) yang berkualitas.[27]
Sejalan dengan harapan besar masyarakat atas peran lembaga pendidikan tinggi Islam, maka kini tuntutan masyarakat terhadap kualitas pendidikan Islam semakin menguat. Tuntutan atas mutu ini semakin menguat terlebih ketika dalam masyarakat terjadi perubahan paradigma makro dari efek globalisasi dengan corak logika ekonomi yang semakin transparan, maupun dalam realitanya dalam Perguruan tinggi Islam yang belum terwujud jaminan mutu secara sesuai. Seharusnya Perguruan tinggi Islam juga berfungsi sebagai layanan publik sebagaimana perguruan tinggi lainnya.
Meskipun secara redaksional pengertian mutu memiliki keragaman, tetapi semua argumen tersebut menganggap bahwa sesuatu yang bermutu manakala memenuhi dua aspek utama, yaitu telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan pemenuhan kepuasan pelanggan.
B.                 Permasalahan
1.      Identifikasi Masalah
Manajemen untuk sebuah institusi adalah sebuah keharusan jika kita melihat arah dan kebijakan pengembangan perguruan tinggi (PT) dewasa ini harus mengacu kepada paradigma baru yang berpijak pada 5 hal hal, yaitu Kemandirian (Autonomy), Akuntabilitas (Accountability), Jaminan Kualitas (Quality Assurance), Evaluasi Diri, dan Akreditasi sebagai jaminan mutu akademik.
Di samping itu, kepemimpinan mempunyai hubungan yang sangat penting dalam rangka perkembangan suatu perguruan tinggi. Bagaimanapun juga efektifitasnya sangat menentukan. Tidak terkecuali para dosen yang mengambil mata kuliah tertentu dalam menjalankan tugas-tugasnya secara professional yang mengarah kepada Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat, ketiganya harus saling bersinergi agar pelaksanaan pendidikan di perguruan tinggi berjalan secara maksimal.
2.      Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar fokus dalam penelitian ini, maka pembahasan yang akan dikaji terkait dengan penelitian disertasi ini yang mengambil tempat penelitian di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berfokus pada manejemen mutu dari sisi akademik dan sisi administrasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Adapun masalah pokok yang akan dikaji di sini adalah sejauh mana desain proses pendidikan yang diterapkan.
a.       Konsistensi dari kepemimpinan dalam melaksanakan tugas.
b.      Bagaimana riset pasar untuk mengetahui kebutuhan dan kemampuan lulusan
C.    Perumusan Masalah
Pada masalah-masalah pokok tersebut di atas dapat dijabarkan ke dalam sub bab sebagai berikut:
1.      Bagaimana kualitas manajemen mutu dari sisi Akademik pada UIN Jakarta?
2.      Bagaimana kualitas manajemen mutu dari sisi administrasi keuangan pada UIN Jakarta?
D.                Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, maka tujuan      penelitian ini adalah:
1.      Menganalisa mutu manajemen dari sisi akademik pada UIN Jakarta
2.      Menganalisa mutu manajemen dari sisi administrasi akademik pada UIN Jakarta
E.                 Signifikansi dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan pada uraian dan rumusan masalah serta tujuan yang ingin dicapai, maka signifikansi penelitian disertai yang saya tulis ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Secara teoritis merupakan pola pintu masuk dalam kajian manajemen Mutu pada perguruan tinggi yang memberikan perspektif dan interpretasi terkait dengan pengelolaan mutu dan profesionalisasi manajemen.
2.      Secara praktis ingin memberikan sumbangan pemikiran dan masukan bagi stakeholder yang terkait dengan peningkatan kualitas dan perumusan kebijakan dalam menjalankan tugas untuk mencapai mutu yang diinginkan masyarakat.
F.                 Kajian Terdahulu yang Relevan
Penelitian yang mengkorelasikan Manajemen Mutu (TQM) dengan prilaku ekonomi manajemen sebenarnya bukan merupakan penelelitian yang baru, sebab sejak ahir abad 19 sebagaimana Max Weber yang meprakarsai penelitian tentang keyakinan agama dengan prilaku ekonomi dengan judul The Protestan Ethic and the Spirit Of Capitalism.[28] Menurut Weber etik Protestanisme yang berkembang pada abad ke-18 di Eropa Barat adalah falsafat yang memberi dasar  kultural bagi perkembangan kapitalisme dan revolusi industri.
Edward Sallis, Total Quality Managemen in Education[29] di mana mengutip pendapat  Peter dan Austin dalam pembahasan “Excellence in School Leadership “ mengatakan di mana kepemimpinan merupakan faktor penting dalam mencapai mutu, komitmen terhadap kualitas mutu harus menjadi  peran utama  bagi seorang pemimpin. Lebih lanjut Salis mengemukakan bahwa yang paling penting dalam meningkatkan mutu pedidikan yaitu tekad mencapai mutu yang terbaik dimulai dari atas (top down process).[30]
Dalam masalah ini, menurutnya ada 13 agenda kegiatan manajemen  yang meliputi, menyenangkan pelanggan melalui pertemuan, diskusi, membentuk beberapa fasilitator dan konsultasi yang akan memasyarakatkan program-progranm yang direncanakan, serta mengarahkan dalam program peningkatan mutu, membetuk pengarah peningkatan mutu yang selalu mendorong  dan menunjang tercapainya peningkatan mutu yang akan menyelesaikan, serta mengarahkan jika terjadi permasalahan. Menyelenggarakan seminar  manajemen dalam rangka mengevaluasi kemajuan, mendiagnosis serta menganalisis situasi yang sedang berkembang, menguji coba model-model yang telah diterapkan oleh lembaga atau instansi lain, Menggunakan konsultan, Menyebarluaskan pengertian mutu kepada seluruh individu, masyarakat  serta lembaga Pendidikan agar semua merespon serta terlibat dalam proses peninkatan budaya, mengukur biaya dari mutu, termasuk mengkalkulasi kerugian yang diakibatkan dari penurunan jumlah mahasiswa, drop out, reputasi dan akreditasi yang menurun, menerapkan teknik kerja yang efektif, serta selalu mengevaluasi program yang telah dilaksanakan pada setiap periode yang telah direncanakan tidak mengalami kegagalan serta mengulangi kesalahan.
Adapun pendapat W. Edwards Deming dalam bukunya Out of the Crisis.[31] menyatakan bahwa masalah mutu terletak pada masalah manejemen. Ukuran kesuksesan adalah kepuasan pelanggan. Hal ini nampaknya tidak bisa diterapkan sepenuhnya pada lembaga di Indonesia, jika hal itu tidak diimbangi dengan apa yang disebut dengan etik  sumberdaya manusia yang ada, karena etos kerja bangsa Indoesia belum mampu menciptakan hasil yang bak, jika tertumpu pada masalah manajemen saja tidak cukup.
M.P. Peak dalam penelitiannya yang berjudul Total Quality Management, kualitas digambarkan sebuah filosofi tata cara dan pendekatan yang dipakai oleh manajemen untuk menyusun sekumpulan prinsip, dimana keterlibatan satu sama lain selalu berkausalitas, hal ini tidak kalah penting dalam proses belajar mengajar di kelas antara dosen dan mahasiswa bias dikatakan bermutu apabila mengacu pada pendekatan  secara sistematis untuk perbaikan terus menerus dalam pengertian dosen tidak bekerja sendiri, disini harus ada partisipasi dari semua elemen yang terkait dengan pelaksanaan proses belajar mengajar. Maka rencana ke depan Indonesia sudah saatnya menciptakan bagaimana pendidikan tinggi selalu (continuous educational process improvment) yang tidak ada henti-hentinya, semenjak tercetus ide – ide untuk menghasilkan lulusan yang berkualtas sesuai dengan tuntutan zaman, pengembangan kurikulum yang mutahir, proses pembelajaran serta bertanggung jawab untuk memuaskan para pengguna kelulusan. Kualitas menurutnya tidak terbatas pada produk dan jasa, akan tetapi juga kualitas proses penyelenggaraan program dan penyediaan jasa pendidikan.[32]
Penemuan sistematik dan penjaminan mutu pada lembaga pendidikan Islam yang berbasis pada keunggulan serta keunikan pendidikan Islam yang mengakomodasikan unsur dasar penjaminan mutu yang ada sangat diperlukan. Penemuan penjaminan mutu ini penting karena disamping penjaminan mutu Perguruan tinggi Islam belum terumuskan, juga unsur dasar penjaminan mutu selama ini sudah berkembang di dalam perguruan tinggi Islam.
Kehadiran penjaminan mutu dalam lingkungan Perguruan tinggi Islam secara ideal untuk menjaga kualitas ideologi serta akademik. Namun, dalam sisi lain kehadirannya dapat didasari alasan lain sebagaimana diungkapkan dalam disertasi tentang mutu pendidikan tinggi di Hongkong. Ditemukan bahwa penyelenggaraan mutu pendidikan merupakan reaksi atas sejumlah perubahan keadaan yang terkait dengan: (a).perubahan konteks yang terkait dengan sebaran profil mahasiswa, internalisasi pendidikan tinggi maupun pasaran kerja. (b) munculnya angkatan kerja dan mahasiswa (c) ketidakpuasan dari pekerja dan mahasiswa (d) desakan karena terbatasnya dana (e) tuntutan untuk melakukan pertanggung jawaban terhadap kelembagaan.[33] Dalam lingkungan UIN Jakarta, sebagian reaksi tersebut terjadi misalnya reaksi atas ketidakpuasan mahasiswa dan desakan terbatasnya dana.
Teori Manajemen mutu kemudian menjadi kebutuhan dalam mengelola sektor-sektor hingga era persaingan merebut jaminan mutu. Instansi pemerintah, swasta dan masyarakat  sebagai pengguna jasa pasti menginginkan pelayanan yang berkualitas. Berbagai teori yang berkembang dalam hal manajemen mutu sebagai upaya untuk meningkatkan dan menjamin  mutu, yaitu Quality Control ( QC ), Quality Assurance ( QA ), Total Quality Control ( TQC ), dan Total Quality Management ( TQM ). Manajemen mutu memiliki fokus pada kepuasan pelanggan. Tidak dapat dipungkiri  bahwa Manajemen Mutu (TQM) atau lebih dikenal dengan manajemen mutu terpadu merupakan konsep yang mempunyai nilai nilai yang baik.
Total Quality Management merupakan suatu sistem manajemen yang berfokus kepada orang yang bertujuan untuk meningkatkan secara berkelanjutan kepuasan customers sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Deming yang dituangkan dalam karyanya yang sangat banyak. Hal ini Deming memfokuskan pada bagaimna cara memningkatkan kualitas produk secara berkelanjutan dan terus menerus untuk ditingkatkan. Menurut Deming, filosofi manajemen yang berpartisipasi untuk mencapai kepuasan pelangggan terhadap kesesuaian sistem secara total melalui media, kepakaran dan pelatihan.[34]
Di samping itu, ada pneltian yang dilakukan oleh Vincen Gaspert. Penelitian ini dilakukan pada beberapa lembaga pendidikan yang dinilai  memiliki mutu yang baik di Amerika. Dalam penelitian yang berjudul Quality of Management, dapat diambil kesimpulan bahwa lembaga lembaga pendidikaan yang berorentasi pada mutu (berusaha meningkatkan mutu secra terus menerus) pada umumnya untuk mengukur performansi kualitas ada tiga hal, yaitu: proses, output, dan outcome. Dalam pengukuran tingkat pros yang dimulai dengan mengukur setiap langkah awal atau aktivitas proses serta karakreristik input (Dalam pendidikan input di sini adalah bagaimana seleksi mahasiswa yang diperoleh serta rekrutmen dosen yang berkualitas). Adapun pengukuran pada tingkat output yang dihasilkan  dibandingkan dengan karakteristik yang diinginan oleh pelanggan. Dalam pengukuran pada tingkat outcome dapat di lihat dari bagaimana terpenuhinya kepuasan pelanggan atas produk dan jasa yang dihasilkan. [35]
Dapat diketahui secara seksama bahwasanya Implementasi terhadap konsep Manajemen  Mutu (TQM) dalam pendidikan di Indonesia terbilang belum sempurna. Namun demikian, jika setiap usaha mengedepankan perbaikan terus menerus secara maksimal tentunya akan tercapai sesuai dengan penelitian dari para ahli terdahulu mengenai TQM secara tataran spesifiknya.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kapuge dan Smith.[36] Management practices and performance reporting in the Srilankan apparel sector yang sesungguhnya secara berkelanjutan terus menerus, juga menjelaskan bahwa TQM meningkatkan keterlibatan organisasi dalam mengupayakan peningkatan kualitas secara terus menerus. Bertanggung jawab untuk mendeteksi hal-hal yang tidak sesuai dengan pengendalian kualitas, hal tersebut membuat pekerja lebih bertanggungjawab untuk pengendalian kualitas dari kinerja yang dihasilkan.
Berbagai model dan perspektif yang dihasilkan oleh para pakar Manajemen Mutu (TQM), akan tetapi konsep Mutu dalam bidang pendidikan agaknya berbeda dengan industri. Perbedaan di sini terletak pada unsur manusia yang diproses sebagai hasil.[37]
Sim dan Killough[38] menjelaskan bahwa Total Quality Management merupakan suatu filosofi yang menekankan peningkatan proses pemanufakturan secara berkelanjutan dengan mengeliminasi pemborosan, meningkatkan kualitas, mengembangkan keterampilan, dan mengurangi biaya produksi. Penelitian at al. (1993) memberikan gambaran implementasi pemenufakturan TQM lebih menekankan karyawan dalam memecahkan masalah, bekerja secara team work, dan membangkitkan pendekatan inovatif untuk memperbaiki produksi. Banker at al. (1993) menyatakan karyawan diminta mengidentifikasikan cara-cara untuk meningkatkan proses pemanufakturan, mengurangi kerusakan, dan memastikan bahwa operasi perusahaan berjalan efesien, serta lebih menekankan produk dan pelanggan (cutomers).
Waldman (1994) menyatakan bahwa Mamnajemen Mutu (TQM) merupakan suatu sistem yang dirancang sebagai kesatuan, yang memfokuskan pendekatan pelanggan dengan meningkatkan kualitas produk dan pelayanan. Meskipun banyak usaha untuk memasukkan TQM dalam organisasi, relatif kecil mengetahui seberapa besar kefektifan, dan pengimplementasian strategi yang optimal.
Total Quality Management (TQM) pertama kali lahir sebagai respon terhadap munculnya persoalaan “krisis produktivitas”. Fenomena ini pertama kali mencuat di dunia industri yang melibatkan negara-negara industri terutama di Jepang dan Amerika pada tahu 1970-an dan 1980-an. Pada saat itu terjadi banjir barang buatan Jepang di pasar Amerika dan Kanada. Sementara itu Amerika Utara berada dalam periode dengan inflasi tinggi dan pengangguran yang tinggi.
Selain itu konsep TQM juga dikemukakan oleh badan International Standard Organization (ISO), yang menyatakan bahwa: “TQM is a management approach of an organization, centered on quality, based on the participation of all its members and aiming at long term success through customer satisfaction, and benefit to all members of organization ang to society”. Konsep ini menjelaskan bahwa TQM merupakan salah satu pendekatan bagi sebuah organisasi, yang dipusatkan pada kualitas organisasi yang bersangkutan dengan menyertakan partisipasi seluruh anggota yang ada dalam sebuah organisasi dan tujuannya adalah kesuksesan jangka panjang bagi kepuasan pelanggan dan keuntungan bagi semua anggota organisasi dan masyarakat. Dari konsep ini dapat disimpulkan bahwa tujuan yang hendak dicapai dengan adanya penerapan Manajemen Mutu (TQM) pada sebuah organisasi adalah tidak hanya bagi pemilik, atau pihak manajemen organisasi saja, melainkan tujuan adalah jangka panjang guna meningkatkan kepuasan para pelanggan dan semua  anggota yang ada dalam organisasi. Sedangkan Capecio dan Moorehouse dalam Smith menjelaskan Total Quality Management sebagai: “Total Quality Management as a management process and set of disciplines that are co-ordinated to ensure that the organization consistenly meets exceeds customer requirements.”
Adanya komitmen terhadap mutu berpijak pada pengalaman, hasil riset yang dilakukan, serta tulisan atau beberapa literature dari para tokoh pergerakan mutu seperti halnya W. Edward Deming.[39] Lebih lanjut konsep pemikirannya berkembang menjadi konsep pemikiran manajemen sistem pendidikan tinggi  yang bias dilihat pada tahapan sebagai berikut. Tahap pertama bagaimana mengetahui riset pasar, tujuannya adalah untuk mengetahui kebutuhan pasar tenaga kerja, Tahap kedua desain proses, dimana desain ini akan memproses pendidikan yang berorentasi pada pasar tenaga kerja, Tahap ketiga yaitu menjalankan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien, Tahap ke empat yaitu menyerahkan lulusan yang kompetitif dan berkualitas baik dan unggul.[40]
Teori manajemen mutu yang berkembang di Indonesia belum mampu mengaplikasikan POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controling) secara baik, terbukti berapa besar sumber daya alam Negara kita secara makro belum mampu mensejahterakan rakyatnya, hal ini jika konsep konsep tersebut diaplikasikan dengan perpaduan konsep dan cita-cita negara yang ingin memakmurkan serta menyejahterakan rakyatnya (Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur).
Dengan merujuk pada TQM sebagai bahan acuannya yang telah penulis jelaskan di tas, maka melaui disertasi ini penulis bertujuan untuk mengaitkan antara TQM dengan salah satu institusi pendidikan Islam terbesar di Jakarta, yakni UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam Indonesia. Sebelum bertransformasi menjadi UIN dari sebuah akademi (ADIA) dan institut (IAIN), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki reputasi yang dikenal sebagai lembaga penyemaian ide-ide pemikiran Islam yang moderat, toleran, dan terbuka, khususnya dengan hadirnya beberapa sosok penting sebagai bagian dari sivitas akademika seperti Prof. Dr. Yunus Mahmud, Prof. Dr. Harun Nasution, Prof. Dr. Nurcholish Madjid dan juga Prof .Azyumardi Azra, Prof.Maskuri Abdillah, Prof.Komarudin Hidayat, Prof.Jamhari yang telah memperkenalkan metode pemahaman dan penafsiran Islam yang lebih modern, inklusif, dan rasional.[41]
Dengan kehadiran para tokoh tersebut, dapat disadari bahwa dapat memberikan angin perubahan yang selanjutnya dapat melahirkan berbagai tokoh intelektual Islam Indonesia yang memiliki reputasi sebagai tokoh Islam dengan pemahaman dan penafsiran Islam secara toleran dan moderat yang berasal dari lembaga pendidikan tersebut. Bahkan dari kalangan ini pulalah mulai dikenalnya pendekatan yang mengintegrasikan ilmu sosial dan sains ke dalam ilmu-ilmu Islam. Dengan posisi yang sangat strategis inilah yang kemudian menjadi modal utama bagi UIN Jakarta dalam memposisikan diri ketika harus berkompetisi dengan perguruan tinggi lain di Indonesia.
Tradisi intelektual yang kokoh dalam bidang Islamic Studies ini memberikan manfaat tersendiri bagi UIN Jakarta untuk mengembangkan daya tarik sekaligus keunggulan yang bersifat kompetitif (competitive advantage) di antara kebanyakan perguruan tinggi di Tanah Air. Namun demikian, dengan semakin bertambahnya disiplin keilmuan pada berbagai program studi yang diselenggarakan, UIN Syarif Hidayatullah dituntut untuk memiliki daya saing komparatif (comparative advantages) terhadap perguruan tinggi lain.
Sebagai bagian dari upaya penguatan peran tersebut, UIN Syarif Hidayatullah mencanangkan visi pengembangan jangka panjangnya sebagai universitas kelas dunia (World Class University). Predikat universitas kelas dunia menunjuk pada reputasi yang dibangun dari rekognisi internasional atas kinerja pendidikan suatu universitas yang terukur terutama pada, kualitas output sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan; kedua, mutu, relevansi, dan manfaat penelitian dalam konteks pengembangan ilmu dan pemecahan masalah-masalah kemanusiaan; ketiga, kontribusi lembaga dan sivitas akademika dalam mendorong perubahan ekonomi, sosial, dan budaya secara progresif. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan rencana dan langkah-langkah strategis yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Institusi yang baik, harus memiliki visi yang berani agar tetap eksis.[42]
Mengutip pendapat yang dikemukakan oleh A. Malik Fajar, bahwa visi dan misi harus jelas dan tegas bertumpu pada kenyataan.[43] Oleh karena itu  kenyataan yang ada pada internal dan eksternal perlu diidentifikasi dengan baik ketika akan merumuskan visi dan misi sehingga apa yang direncanakan oleh intitusi tersebut akan dapat terlaksana dengan baik. Cita – cita dan sasaran pendidikan merupakan rumusan dan harapan secara komprehensif yang harus diwujudkan dalam rangka upaya melaksankan misi tersebut. Sasaran harus tepat sesuai dengan mutu pendidikan yang diharapkan.
Mengenai unsur – unsur yang tidak mendukung pada sasaran dan pencapaian mutu harus dihilangkan, Adapun tujuan pendidikan tinggi merupakan perwujudan dari implementasi visi dan misi secara baik, sehingga akan mampu memberikan pendidikan kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan standar yang dituntut oleh pihak yang berkepentingan, baik secara internal maupun eksternal, termasuk pasar lapangan kerja.
Dalam kasus serupa dengan fenomena di atas misalnya terjadi pada riset Joshua Earnest yang memperlihatkan bahwa munculnya model peningkatan mutu melalui rekayasa kurikulum yaitu Competency based engineering curricula muncul akibat adanya perubahan dan tuntutan mutu atas kekurangmampuan lulusan teknik dalam memasuki dunia kerja (Earnest, Joshua. 2001: 22). Dalam konteks relasi dengan ekternal, jaminan mutu difungsikan sebagai alat yang digunakan oleh pendidikan tinggi untuk meyakinkan bahwa lulusannya dapat diterima di lembaga lain sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban publik penyelenggaraan kepada masyarakat atas tawaran program pendidikan.
Beberapa alasan mengapa perguruan tinggi termasuk di dalamnya Perguruan tinggi Islam harus memusatkan perhatiannya pada mutu sehingga harus mengagendakan penjaminan mutu sebagai hal yang harus dikerjakan segera dan diupayakan secara terus menerus:
1.      Perhatian yang semakin meluas tentang besarnya dana masyarakat yang terserap dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi sampai-sampai alokasi yang seharusnya untuk sektor lain oleh masyarakat direlakan untuk pendukung penyelenggaraan pendidikan.
2.      Perhatian terfokus pada kompetisi ekonomi masa depan dan karenanya dibutuhkan adanya pekerja yang berkualitas dan mempunyai kompetensi tinggi di masyarakat pasca industri.
3.      Masalah pemantauan input – proses dan output pendidikan tinggi dalam sistem manajemen yang semakin inovatif dan yang semakin cepat tidak boleh terhambat oleh menyusutnya sumber-sumber daya baik manusia maupun sumber alam.
4.      Adanya gerakan internasionalisasi perguruan tinggi yang semakin kuat dalam penerapan standar penilaian dan pengukuran untuk kemampuan dasar maupun kesamaan kualifikasi akademik profesi khususnya bagi
5.      Adanya komitmen beberapa tempat atau negara untuk mengembangkan layanan publik yang lebih efisien, lebih tanggap sesuai dengan kebutuhan langganan.[44]
Pandangan, kepercayaan, dan kepuasaan kini dijadikan sebagai kunci berkembangnya sebuah penjaminan mutu Perguruan tinggi di manapun, sehingga pihak pendidikan tinggi UIN Jakarta saat ini, baik secara nyata maupun tersamar mulai mengembangkan jaminan mutu (quality assurance). Tidak ada jaminan bahwa keberadaan sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam yang hari ini megah bangunannya dengan jumlah mahasiswa yang besar esok hari tetap mampu bertahan, dalam hal ini UIN Jakarta menunjukan fakta tersebut. Fenomena inilah yang dipertegas oleh Jennings bahwa tidak jaminan perguruan tinggi untuk bertahan di hari esok bila tidak memperhatikan mutu.
Semua komponen tersebut memerlukan pengaturan yang jelas dan tegas seiring dengan perkembangan  teori teori yang ada dalam  manajemen. Oleh karenanya pembahasan pembahasan yang berkaitan dengan mutu perlu secara holistik utamanya tekait dengan manajemen mutu terpadu. Konsep Manajemen mutu terpadu dalam pendidikan boleh dibilang relatif baru. Sebagaimana yang terjadi dengan IAIN yang berubah menjadi UIN, hal ini tentu tidak serta-merta dilakukan perubahan secara mendadak di segala aspek yang memberikan implikasi pada kelangsungan sistem pendidikan dalam civitas akademika lembaga tersebut. Dalam prakteknya, perubahan dari IAIN menjadi UIN memerlukan berbagai perbaikan demi mencapai percepatan dalam adaptasinya terhadap perkembangan dan persaingan global dalam segmen pendidikan tinggi. Keberadaan atau eksistensi dari visi dan misi dalam sebuah lembaga atau organisasi tetap menjadi pijakan serta landasan pacu untuk lengkah pada jenjang yang lebih jauh.
Renstra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2012-2016 ini disusun sebagai kelanjutan dari Renstra sebelumnya dan memberikan arah bagi 2 (dua) Renstra periode berikutnya, demi terwujudnya peningkatan yang berkelanjutan (continuous improvement). Oleh karena itu, Renstra ini juga mengidentifikasi berbagai peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan berdasarkan pada analisis terhadap kondisi eksternal dan internal,yang menjadi dasar perumusan kebijakan dan program pengembangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2012-2016.
Sebagai dokumen perencanaan satuan kerja (sakter) perguruan tinggi yang bernaung dalam Kementrian Agama, Renstra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2012-2016 disusun dengan mengacu kepada Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 dan Tata Cara Penyusunan Renstra Kementrian/Lembaga dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006. Adapun secara substansial, penyusunan Renstra UIN Syarif Hidayatullah 2012-2016 memperhatikan keselarasan antara kebijakan dan program dalam Renstra dengan kebijakan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam dokumen-dokumen perencanaan pembangunan, yaitu: pertama, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025; kedua, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014; ketiga, Renstra Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014; keempat, Renstra Kementerian Agama 2010-2014; kelima, Renstra Direktorat Jendral (Ditjen) Pendidikan Islam 2010-2014; keenam, Renstra ini merupakan kesinambungan dari Renstra UIN Jakarta sebelumnya (2007-2011); ketujuh, Master Plan pengembangan UIN Jakarta; dan kedelapan, Organisasi dan Tata Kerja UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013. Di samping itu pula mengacu kepada Renstra, Permenag.No.13 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.[45] Sebagai Penguatan kelembagaan  yang mengacu kepada Implementasi Sistem Manajemen mutu, Sosialisasi Sistem msnsjemen stratejik, serta Draft Permenag tentang UIN Jakarta menjadi WCU.
Dalam kedudukan tersebut di atas, Renstra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2013-2016 berfungsi sebagai pedoman dan bersifat mengikat bagi seluruh unit kerja di lingkungan UIN Jakarta dalam penyusunan, pelaksanaan, dan monitoring serta evaluasi program dan kegiatan. Di samping itu ia juga berfungsi sebagai panduan dalam penyusunan Rencana Strategis Fakultas, Sekolah Pascasarjana serta semua unit/lembaga di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta saat ini telah berusia 56 tahun. Selama kurun waktu tersebut, lembaga pendidikan ini telah menjalankan mandatnya sebagai institusi pembelajaran dan transmisi ilmu pengetahuan, sebagai institusi riset yang mendukung proses pengembangan ilmu dan pembangunan bangsa, dan sebagai institusi pengabdian masyarakat yang terus menerus mendorong program-program peningkatan kesejahteraan sosial. Selama itu pula UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah melewati beberapa periode sejarah yang sehingga pada saat ini telah menjadi salah satu ikon Universitas Islam di Indonesia.
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu perguruan Islam terbesar di Indonesia, mengemban amanat umat Islam Indonesia untuk menjadi salah satu perguruan tinggi unggulan, perkembangannya merupakan cerminan dari transformasi masyarakat Muslim Indonesia secara tidak langsung, yang diwakili kaum santri. Di satu sisi perkembangan serta kemajuannya merupakan kebanggaan tersendiri bagi UIN Jakarta, dismping itu pula juga membawa banyak tantangan  yang harus dihadapi.
Sebagaimana Rencana Strategis UIN 2012-2016 adalah mileston pertama dari rangkaian tiga milestones UIN Jakarta menuju visi jangka panjang menjadi World Class University (WCU).
Pada 2016, dimana renstra ini disusun berdasar pertimbangan hasil evaluasi sekaligus memperhatikan kebutuhan strategi UIN jangka panjang. Adapun kerangka pengembangan menuju World Class University UIN Jakarta memiliki komitmen untuk mengembangkan lembaga pendidikan Tinggi Islam kelas Dunia adalah Universitas yang mendapatkan pengakuan global, yang ditandai dengan reputasi akademik yang unggul dan handal, lulusan yang berdaya saing, jumlah sitasi dosen yang tinggi, rasio dosen dan mahasiswa yang ideal, serta jumlah mahasiswa dan dosen asing yang memadai.
Hal ini sesuai dengan visi UIN “menjadikan UIN Syarif Hidayatullah sebagai lembaga pendidikan tinggi terkemuka dalam mengintegrasikan aspek keilmuan, keIslaman dan keIndonesiaan.”
G.                Kerangka Teori
Kerangka teori disini sebagaimana uraian di atas adalah dalam upaya mengeksplorasi dan memaparkan pendapat-pendapat dari berbagai teori dan dari beberapa perspektif keilmuan yang akan dijadikan acuan dalam penelitian ini.
Dalam hal ini, Salis mengemukakan suatu pendekatan dalam pengaplikasian manajemen mutu dalam suatu organisasi, yakni sebagai suatu filosofis dan suatu metodologi untuk membantu dan mengawal perubahan, sebagaimana inti dari Total Quality Management (TQM) adalah penekanannya pada perubahan budaya.[46]
Dalam upaya menciptakan fungsi pemroses kelulusan dalam hal ini adalah dosen sangat penting perannya, bagaimana cara menyelesaikan tugas-tugas dan fungsi sebagai tenaga edukatif yang professional yang betul-betul mampu mengembangkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Kemampuan dosen harus selalu diselaraskan dengan perubahan dan tuntutan yang ada, sebagaimana Ulrich.[47] Ada empat keutamaan dalam kepemimpinan agar selalu mencapai “champion” yaitu;
1)      Menjadi partner dan rekan yang stratejik.
2)      Menjadi seorang ahli/pakar yang mempunyai kapabilitas yang handal.
3)      Menjadi sosok pekerja keras dan ulung.
4)      Menjadi pelopor “agent of change.”
Dengan keterlibatan empat poin di atas, tentunya diharapkan mampu mewujudkan manajemen yang bermutu untuk memenuhi apa yang disebut dengan kepuasan pelanggan, mempunyai obsesi yang tinggi terhadap kualitas, mampu menerepkan pendekatan ilmiah, dan pengambilan keputusan serta pemecahan masalah, memiliki komitmen jangka panjang, memperbaiki proses secara berkesinambungan.
Selain daripada itu, dalam mwujudkan kegiatan pelaksanaan penjaminan mutu pada lingkungan Perguruan tinggi Islam ini sangat wajar bila perguruan tinggi yang masih memusatkan diri dalam pembenahan sistem kepemimpinan, ada pula yang sudah mengembangkan diri pada tahapan aktualisasi diri dengan lebih melebarkan program unggulan. Keragaman pelaksanaan penjaminan mutu untuk Perguruan tinggi Islam lebih menampakkan variasi dibanding pada Perguruan tinggi umum, sebab selain karena keragaman kondisi, juga mutu Perguruan tinggi Islam negeri sendiri sangat tinggi juga kesadaran atas mutu dari masing-masing pimpinan lembaga tinggi Islam juga berbeda-beda. Kemandirian perguruan tinggi Islam negeri ikut serta mempengaruhi corak variasi pelaksanaan penjaminan mutu di tempat masing-masing.
Keadaan internal lembaga pendidikan tinggi Islam negeri yang beragam tanggapannya atas keberadaan penjaminan mutu inilah yang menyebabkan model penjaminan mutu juga berlainan. Di samping itu juga, karena model jaminan mutu banyak jenisnya dengan sendirinya perguruan tinggi bisa memilih mana yang dianggap sesuai dengan keadaan dan kemampuan perguruan tinggi setempat. Adanya otonomi perguruan tinggi swasta turut juga menyebabkan model penjaminan mutu yang dianut menjadi berbeda satu dengan lainnya. Pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan tinggi dipastikan tidak akan memiliki kesamaan antara satu lembaga dengan lainnya.
H.                Metodologi Penelitian
Metode yang dipergunakan adalah metode penelitian Grounded Theory di mana penelitian kualitatif yang mengunakan sejumlah prosedur sistematis guna mengembangkan teori-teori yang ada, pendekatan grounded theory merupakan metode ilmiah, karena prosedur kerjanya yang dirancang secara cermat sehingga memenuhi kriteria metode ilmiah, yang dimaksud kriteria di sini adalah adanya signikansi, kesesuaian antara teori dan observasi, dapat digeneralisasikan, dapat diteliti ulang, adanya ketepatan dan ketelitian serta bisa dibuktikan. Metode ini juga disebut dengan teoritisasi data. Teoritisasi adalah sebuah metode penyusunan teori yang berorentasi pada tindakan atau interaksi, hal ini cocok untuk penelitian  terhadap prilaku yang didalamnya termasuk pelaku manajemen. Penelitian ini akan menghasilkan rumusan teoritis tentang suatu realitas, yang terdiri dari sejumlah atau sekelompok tema-tema yang mempunyai keterkaitan. Melalui cara ini, konsep dan hubungan tema-tema tersebut tidak  hanya dapat diberlakukan secara umum, tetapi juga diuji sementara.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Strauss dan Corbin.: ”The grounded theory approach is a qualitative research method that uses a systematicset a procedures to develop an inductively derived grouded theory about a phenomenon. The research findings constitute a theoretical formulation of the reality under investigation, rather than consist of a set of number , or a group of loosely related themes. Through this methodology, the concepts and relationships among them are not only generated but they are also provisionally tested. The procedures of the approach are many and rather specific, as you will see.”[48]
            Adapun tujuan dari grounded theory adalah menyusun teori yang tepat juga memberikan gambaran yang jelas tentang bidang yang diteliti. Para peneliti bekerja dalam tradisi yang sedemikian rupa serta berharap  teori yang akan dibangun dapat dikaitkan dengan teori-teori lain dalam disiplin masing-masing dan mempunyai implikasi yang dapat berguna dalam penerapannya.
Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan paradigma kualitatif, yang berorentasi pada manajemen pengembangan mutu yang terjadi pada peningkatan produktivitas kelulusan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, penelitian ini meliputi model strategi yang alam pendidikan, serta cara mendesain sistem kualitas yang dikembangkan di samping itu juga bagaimana strategi kontrol dalam pengembangan mutu dan termasuk manajemen dalam meningkatkan produktivitas kelulusan yang dihasilkan. Di samping itu juga kualitas Manajemen dalam sistem akademik dan sistekm administrasi UIN juga melibatkan dua bentuk, pertama data pustaka dan data lapangan. Data pustaka yang dipakai dalam penelitian ini berasal dari berbagai sumber, baik berupa buku-buku, media cetak, media elektronik, jurnal penelitian dan juga melaui internet. Adapun data  primer utama yang dipakai dalam penelitian ini diperoleh dari data survey lapangan baik sumber-sumber yang berasal dari wawancara dosen, karyawan yang berhubungan dengan pihak akademik serta administrasi.
Selanjutnya, data-data tersebut dianalisis dengan pendekatan deskriptif analisis. Selain itu dilakukan analisis komparatif dari data-data tersebut sehingga kesimpulan yang diperoleh lebih komprehensif. Dalam pendekatan Grounded Theory, teori yang sudah ada harus diletakkan sesuai dengan maksud penelitian yang sedang dikerjakan. Ada beberpa penelitian yang bermaksud menemukan teori dari dasar antara lain:
Apabila peneliti menghadapi kesulitan dalam hal konsep  pada saat merumuskan masalah. Membangun kerangka berfikir, atau jika peneliti menemukan teori yang berhubungan dengan teori yang sudah dikenal. Maka temuan baru itu merupakan sumbangan baru untuk memperluas  teori yang sudah ada.
I.                   Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian Lapangan (field research) dimana data  data yang diambil bersumber dari data lapangan baik dari hasil angket dan wawancara kepada informan yang terkait dengan tema yang penulis bahas, Lokus penelitian ini di Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta fokus pada segi akademik dan administrasi. Paradigma yang dipakai di sini adalah paradigma Kualitatif Naturalistik. Disebut Demikian karena situasi di lapangan penelitian ini bersifat “natural” . Sebagaimna adanya, tidak dimanipulasi diatur dengan eksperimen atau test.[49] Naturalistik  karena rancangan penelitian ini yang sesuai untuk digunakan adalah analisa wawancara dan studi kasus untuk mendapat data langsung dari informan yang ada hubungannya dengan pembahasan ini.
J.            Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian ini berfokus pada Produktivitas kelulusan yang mengakomodir dari pendekatan – pendekatan Kualitatif dan kuantitatif yang menggunakan sekala likert sebagai alat pengukuran. Dengan melakukan wawancara terbuka, observasi langsung  menggunakan angket yang disebar luaskan baik kepada dosen, mahasiswa dan karyawan yang terkait dengan sistem akademik dan administrasi kampus. Serta melakukan studi dokumen. Kemudian data-data yang yang diperoleh berdasarkan alat tersebut diatas diperisakan dan diteliti  serta diamati. Selanjutnya diiterpretasi berdasarkan kemampuan peneliti dengan melihatkecendrungan, arah, pola interaksi faktor – faktor serta hal –hal yang dapat memacu atau menghambat perubahan, kemudian merumuskan hubungan baru berdasar pada unsur – unsur yang ada.[50]
K.         Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan Penelitian yang dilaksanakan, maka data–data yang dipakai dikelompokkan menjadi tiga jenis, agar memudahkan untuk mengklasifikasikan, pertama, data langsung yang terkait dengan mutu kelulusan, hal ini bagaimana  pemimpin dalam mengemban dan mengawal kebijakan mutu Fakultas. Kedua, data yang terkait dengn kegiatan dosen dan mahsiswa dapat diperoleh dari dokumen tata usaha dalam bidang akademik. Adapun data mengenai kualitas mutu peningkatam SDM dapat di peroleh dari wawancara para pimpinan, Dosen mahsiswa dan kegiatan pendidikan.[51] Pada bagian yang Ketiga data yang diambil husus mengenai kualitas mutu yang di amanatkan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmukesehatan dengan melalui wawancara dari pemimpin fakultas, kepala Tata Usaha, Bagian Akademik Fakultas, para Dosen, para mahasiswa, sebagai penilaian mutu akreditasi Fakultas yang antara lain melihat proses belajar mengajar, manajemen pengelolaan Fakultas serta kultur serta lingkungan termasuk didalamnya pembinaan Asrama. Dalam mengacu dan memacu produktivitas  yang obsesi dan orientasinya pada kualitas, komitmen adalah suatu sikap (attitude) yaitu penilaian pribadi ( baik dari pimpinan, dosen, para karyawan dan mahasiswa) yakni penilaian pribadi, kedalaman emosi serta kecenderungan setuju atau tidak setuju pada suatu obyek sosial.[52]
L.                 Sistematika Pembahasan
Dalam sistematika pembahasan disertasi  ini dideskripsikan ke dalam 5 (lima) bab. Pada bab pertama berisi pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, kajian penelitian tedahulu, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Pada bab kedua dideskripsikan konsep strategi pengembangan mutu perguruan Tinggi  yang berisi model strategi yang dikembangkan, model strategi yang dikembangkan dalam UIN Jakarta, gambaran sistem penyatuan ilmu umum dan Ilmu Agama, strategi pengawasan dalam pengembangan kualitasan peran manajemen dalam meningkatkan produktivitas kelulusan.
Pada bab ketiga tentang peningkatan Mutu Akademik dan Administrasi, yakni Filosofi Manajemen Mutu pada sistem akademik UIN Jakarta, Profil UIN Jakarta, Kualitas input dan proses yang dipersiapkan, dan Upaya Peningkatan Mutu akademik dan administrasi UIN Jakarta.
Bab keempat tentang Mmnajemen mutu dan kualitas kelulusan, yakni berisikan  Penilian Mutu dan Kinerja Dosen, Kualitas Sarana dan Prasarana, Kualitas Lulusan UIN Jakarta di setiap periode, dan analisa konsep Manajemen Mutu (TQM)
Pada bab kelima berisi implementasi sistem manajemen, untuk  di UIN Jakarta, Peran Aktif Dalam Pemberdayaan Kelulusan, menjalin hubungan yang kuat, dan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan,
Pada bab ke enam, penutup yang berisikan kesimpulan , saran dan rekomendasi serta tabel  tabel terkait.
Outline Disertasi
Adapun rencana sistematika penulisan laporan penelitian disertasi ini adalah sebagai berikut:
Bab I. Pendahuluan
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Permasalahan Penelitian
1.      Identifikasi Masalah
2.      Pembatasan Masalah
3.      Perumusan Masalah
C.     Tujuan Penelitian
D.    Signifikansi dan Manfaat Penelitian
E.     Kajian Terdahulu yang Relevan
F.      Kerangka Teori
G.    Metodologi Penelitian
H.    Sistematika Pembahasan
Bab II. Konsep Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi
A.    Model strategi yang dikembangkan dalam UIN Jakarta
B.     Gambaran sistem penyatuan ilmu umum dan Ilmu Agama
C.     Strategi pengawasan dalam pengembangan kualitas
D.    Peran manajemen dalam memperbaiki kualitas
Bab III. UIN Jakarta dalam peningkatan Mutu Akademik dan Administrasi
A.    Filosofi Manajemen Mutu pada sistem akademik UIN jakarta
B.     Profil UIN Jakarta
C.     Kualitas input dan proses yang dipersiapkan
D.    Upaya Peningkatan Mutu akademik dan administrasi UIN Jakarta
Bab IV. Manajemen Mutu dan Kualitas Kelulusan
A.    Penilaian Mutu dan Kinerja Dosen
B.     Kualitas Sarana dan Prasarana
C.     Kualitas Lulusan UIN Jakarta di setiap periode
D.    Analisa Konsep Manajemen Mutu (TQM)
Bab V. Implementasi Sistem Manajemen Mutu  di UIN Jakarta
A.    Peranan
B.     Peran Aktif Dalam Pemberdayaan Kelulusan
C.     Menjalin hubungan yang kuat
D.    Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan
Bab VI. Penutup
A.    Kesimpulan
B.     Rekomendasi
C.     Daftar Tabel
Daftar Pustaka

















DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrashi, M. Athiyah. Al-Tarbiyah al-Islamiyah. Bayrut: Dar al-Fikr, 1990.
Alam, Arshad. “The Enemy Within: Madrasa and Muslim Identity in North India,” dalam Modern Asian Studies. Vol. 42, No. 2, Januari 2008.
Ali, Maulana al-Alam al-Hajar al-Husain bin Amir al-Mu’minin al-Mansur bi Allah al-Qhasim bin Muhammad. Adab al-Ulama wa al-Muta’allim. Bayrut: Dar al-Manahir, 1985.
Ali, Nizar dan Ibi Syatibi, Manajemen Pendidikan Islam Ikhtiar Menata Kelembagaan Pendidikan Islam. Bekasi, Pustaka Isfahan, 2009.
Anderson, John C. et.al. “A Theory of Quality Management Underlying the Deming Management Method”, dalam The Academy of Management Review, Vol. 19 No. 3, Juli 1994.
Becker, Selwin. Management Review Postgraduate Research Supervision: Transforming Relations. New York, Peter Lang Publishing, 1994.
Bensimon. Total Quality Management in The Academy: A Rebellious Reading. Harvard Educational Review, Vol. 65, No. 4, 1995.
Biggs, John. The Reflective Institution: Assuring and Enhancing the Quality of Teaching and Learning. Netherlands: Higher Education, Vol. 41, 2001.
Bruce Brocka dan M. Suzanne, Quality Management, Implementing  the Best Ideas of the Masters, Bussines One  Irwin Home Wood, Illinois, 60430, h.3
Charles M. Savage, Fith Generation Management Integrating Enterprises Through Human Net Working, 1990.
Cheng, Y. C. School Effectiveness and School-Based Management: A Mechanism Development, The Falmer Press, London, 1996.
Comite National D’Evaluation. Handbooks of Standards for Quality Management in French Higher Education Institutions, Paris: 43 rue de la Procession, January, 2006.
Crosby, Quality is free. (New York: New American Library, 1979), h. 58.
Danim, Sudarwan. Manajemen dan Kepemimpinan Transformational Kepala Sekolahan, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.



Edward Sallis, Total Quality Management in Education; Manajemen Mutu Pendidikan, terj. Ahmad Ali Riadi, et.al., Yogyakarta: IRCiSoD, Cet. IV, 2006, h.74
Emulti D., Kathwala, Y., dan Manippallil, M. 1996. are Total Quality Management Programs in Higher Education Worth the Effort? International Journal of Quality and Reliability Management, 13 (6), 29-44. Diakses dari www.emerald-library.com tanggal 8 mei 2001.
Faganel, Armand and Slavko Dolinsek. Quality Management System in Higher Education, Slovenia: Primorska, 2003.
Fadjar Malik, Holistika Pemikiran pendidikan, (Jakarta Rajawali Pers, 2005), 61.
Fattah, Nanang. Landasan Manajemen Pendidikan, Rosdakarya, Bandung. 2000.
Fiedler, B.. Strategic Management for School Development Leading Your School’s Improvement Strategy, London: A. Sage Publication Company, 2005.
George R. Terry, Prinsip-Prinsip Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara, 2006).
George R. Terry dalam Winardi. 1986, “Asas-Asas Manajemen”. Bandung Alumni.
Gesink, Indira Falk. Islamic Reformation: A History of Madrasa Reform and Legal Change in Egypt, USA: American Research, 2006.
Goetsch and Davis, Introduction To Total Quality, (Englewood Cliffs: H.J. Prentice Hall International Inc, 1994), h. 14-18.
Griffin, Rosarii. Education in Muslim World: Diferent Perspectives, Oxford: Symposium Books, 2006.
HMIE. Quality Management in Education: Self-Evaluation for Quality Improvement, Denholm House Almondvale Business Park, Skotlandia: April 2006.
Ho, S.K., dan Wearn, K. 1996. A TQM Model for Higher Education and Training. Training for Quality Journal, 3 (2), 25-33. Diakses dari www.emerald-library.com tanggal 2 agustus 2001.
Hoy, W.K. & C.G. Miskel, Educational Administration Theory, Research, and Practice, New York: Random House Inc, 2005.
HR. Tilaar, H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 299-300.
HR. Tilaar, H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru, h. 300.

Idris, Jamaluddin. Analisis Kritis Mutu Pendidikan, Suluh Press, Yogyakarta, 2005.
Jawwad, M. Ahmad Abdul. Kiat Sukses Menyusun Target, Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004.
Jawwad, M. Ahmad Abdul. Manajemen Waktu, Panduan Sukses Diri dan Organisasi, Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004.
Joseph Juran, Quality Planning and Analysis, (New York: Mc Grew Hill Inc, 1993), h. 32.
M. Manulang, Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta, Ghalia Indonesia, 2007.
Muhammad. Manajemen Bank Syari’ah, UPP AMP YKPN Yogyakarya,  2005, h. 188-190. Muhammad, “Paradigma Manajemen Teologis Etis” Jurnal Mukaddimah, Yogyakarta, Kopertais Wilayah III Daerah Istimewa Yogyakarta.
Soebagio Atmodiwirjo, Manajemen Pendidikan Indonesia ( Jakarta Ardadizya, 200), 273.
Salis, Edward, 1993. Total Quality Management in Education. Kogan Page, London.
Sharples, K.A., Slusher, M., Swaim, M. 1996. How TQM Can Work In Education. Quality Progress, May, 75-78. Dari CD-ROM.
Strauss, AL, Corbin, J. (1990). Basics of qualitative research: grounded theory procedures and technique . Newbury Park: Sage Publications.
Tampubolon, Perguruan Tinggi Bermutu,, h. 118-120.
Ulrich, Human Resources Champion. Harvard, Business School Press, 1997. Hal. 151-153.
W. Edward Deming, Out of the Crisis, yang dipublikasikan pada tahun 1982.
Woon, K.C. 2000. TQM Implementation: Comparing Singapore’s Service and Manufacturing Leaders. Managing Service Quality, 10 (5), 318-331. Diakses dari www.emerald-library.com tanggal 12 agustus 2001.
Zeithaml, V.A. 2000. Service Quality, Profitability, and the Economic Worth of Customers: What We Know and What We Need to Learn. Journal of the Academy of Marketing Science, 28 (1), 67-85. Dari CD-ROM.


[1] Jamaluddin al Afghani adalah seorang tokoh Pan Islamisme(persatuan seluruh umat Islam) dan pembaharu paling berpengaruh di abad 19 M. Ia lahir di Afghanistan dan meninggal di Istambul. Pan Islamisme adalah sutu faham yang bertujuan  untuk menyatukan umat Islam seluruh dunia. Ide ini dicetuskan oleh Jamaluddin yang erat kitannya dengan kondisi umat Islam pada saat itu. Ia menyaksikan kemundiran  dunia Islam dan dunia Barat sedang dalam kemajuan  serta menjajah dan menguasai Negeri-negeri muslim. Ia melihat bahwa kemunduran umat islam bukanlah karena Islam tidak sesuai dengan perkembangan zaman, melainkan dipengaruhi oleh sifat statis, menyerah kepada nasib, berpegang kepada taqlid, meninggalkan akhlaq yang tinggi, dan melupakan pendidikan dan ilmu pengetahuan. menurutnya Islam meghendaki agar umat bersifat dinamis, aktual, kekinian berakhlak mulia dan cinta ilmu. Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, baik ibadah , hukum, maupun kekuasaan. Karyanya yang termasyhur Ar Raddu ‘Alad Dahriyyin (jawaban kepada kaum atheis) ditulis dalam bahasa Persi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. lagi karya
[2] Muhammad Abduh adalah pembaharu pemikiran Islam yang sangat berpengaruh, berasal dari Mesir, pengaruhnya sangat luas baik di Al Azhar  maupun  ke seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Pada tahun 1877  ia menyelesaikan studinya di Al Azhar dengan mendapat gelar Alim, ia mulai mengajar di Al Azhar  dan Darul Ulum, Abduh merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam pebaharuan dalam pemikiran di dunia Islam, banyak sekali murid murid Abduh yang menjadi penerus upaya pembaharuan, antara lain : Rasyid Ridla, Al Maraghi, Tanthawi, Qosim Amin, Muhammad Husein Haikal, Musthafa Abdur Razik, Ali Abdur Razik, Farid Wajdi, Sa’ad Zaghlul (Bapak kemerdekaan Mesir). Ia menyetujuai pendapat penulis barat, bahwa kemunduran umat Islam disebabkan oleh faham Jabariyah (fatalisme), Dalam Majalah Al Urwah Al Wusqa bersama Afghani menjelaskan bahwa faham qadla dan qadar telah diselewengkan menjadi fatalisme. Fatalisme harus dirubah  dengan faham kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan, menurutnya peran pendidikan sangat penting sekali. Karyanya yang termashur ; Al Islam Din Al Ilm Wa Al Madaniyah, dalam buku ini dibahas  tentang kemunduran umat yang disebabkan “Jumud” dan upaya untuk mengembalikan kepada Islam yang sebenarnya, Risalah Al Tauhid, berbicara tentang ketinggian akal, Tafsir Al Manar  dll.
[3] Lihat Muhammad, Manajemen Bank Syari’ah, UPP AMP YKPN Yogyakarya,  2005, h. 188-190. Muhammad, “Paradigma Manajemen Teologis -Etis” Jurnal Mukaddimah, Yogyakarta, Kopertais Wilayah III Daerah Istimewa Yogyakarta.

[4] M.Quraish Shihab  dalan tafsir Al-Misbahal-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar” Wahai seluruh umat  Muhammad dari generasi ke generasi berikutnya, sejak dahulu dalam pengetahuan Allah  adalah umat yang terbaik, karena adanya sifat-sifat  yang menghiasi  diri kalian, Umat yang dikeluarkan  yakni diwujudkan dan di nampakkan untuk manusia  sjak Adam sampai ahir zaman. Ini karena kalian adalah umat yang terus menerus tanpa bosan menyuruh kepada yang ma’ruf, yakni apa yang dinilai baik oleh masyarakat selama sejalan dengan nilai –nilai Ilahi, dan mencegah yang munkar, yakni yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur, pencegahan yang sampai pada batas menggunakan kekuasaan  dank arena kalian beriman kepada Allah , denganniman yang benar sehingga atas dasarnya kalian percaya dan mengamalkan tuntunan-Nya dan tuntunan Rasulnya serta melakukan  amar makruf dan nahi mungkar itu sesuai dengan cara dan kandungan yang diajarkannya. Inilah yang  menjadikan kalian meraih kebajikan.
[5] Hadis diriwayatkan oleh  Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Imam. No. 4929 teks hadisnya:
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " أَرْهِقُوا الْقُلَّةُ " قَالَ أَبُو حَفْصٍ: - يَعْنِي مُطَيَّنٌ، أَيِ ادْنُوَا إِلَيْهَا - فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ "
Imam Baihaqi lahir di Khasrujard, 994/384 H, wafat di Naysabur 1066/458 H, nama lengkapnya adalah Abu Bakar Ahmad bin Husaian bin Ali bin Abdullah al-Baihaqi, adalah seorang Ulama ahli Hadis, ushul Fiqh dan Fiqh, salah seoarng tokoh utama dalam madzhab Syafi’I, Ia mempelajari hadist dan mendalami Fiqh madzhab Syafi’I, dalam hal akidah mengikuti madzhab Asy’ari, Dalam mencari ilmu ia mendatangi para Ulama di Baghdad, Kuffah dan Mekkah, sebelum akhirnya kembali ke Baihaq, ia mengajar di Naysabur, dan menjadi orang pertama yang mengumpulkan naskah –naskah Fiqh Imam Safi’I. Imam al-Haramain al-Juwaini berkomentar tentang pemahaman Imam Baihaqi terhadap Madzhab Syafi’I “ tidak ada pengikut madzhab Syafi’I yang mempunyai keutamaan melebihi Baihaqi karena karyanya dalam mengembangkan madzhab dan pendapat Syafi’i., sedang komentar Imam adz-Dzahabiberkata mengenai keluasan ilmunya, bahwa kalau Imam Al-Baihaqi menghendaki, maka ia mampu membuat madzhab sendiri karena keluasan ilmu dan pemahamanya. Karya karyanya Al-Sunan al-Kubra, Ma’rifa al-Sunnah wa al-thar, Al-Mabsut , Al-Asma’ wa al-Sifat, Al-I’tiqad ala Madzhab, Syu’ab al Imam, Al-Da’awat al-Kabir. Dan lain lain.
[6] Bruce Brocka dan M. Suzanne, Quality Management, Implementing  the Best Ideas of the Masters, Bussines One  Irwin Home Wood, Illinois, 60430, h.3.
[7] Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pedoman Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Jakarta :2003

                [9] Universitas Gadjah Mada, Jaminan mutu Pendidikan tinggi dan Proses pembelajaran di Universitas Gadjah mada. Paper Workshop Pengembangan quality assurance. Yogyakarta
[10] Sadlak Jan. Studies on Higher Education prepare in indicators for institutional and programs, accreditations in Higher education,Bucharest: CEPES UNESCO, 2004, h. 45
[11]Edward Sallis, Total Quality Management in Education; Manajemen Mutu Pendidikan, terj. Ahmad Ali Riadi, et.al., Yogyakarta: IRCiSoD, Cet. IV, 2006, h.74.
[13] Joseph Juran, Quality Planning and Analysis, (New York: Mc Grew Hill Inc, 1993), h. 32.
[14] Crosby, Quality is free. (New York: New American Library, 1979), h. 58.
[15] Goetsch and Davis, Introduction To Total Quality, (Englewood Cliffs: H.J. Prentice Hall International Inc, 1994), h. 14-18.
[16] J. Winardi, Motivasi dan Pemotivasian dalam manajemen. Jakarta: Rapi Grasindo persada, 2001, h. 65

[17] W. Marsono. Aplikasi Konsep Mutu Pendidikan Tinggi. Yogyakarta : Kantor Jaminan mutu UGM, 2002, h. 21
[18] Dalam kaitan ini, Ahmad Sanusi menekankan  rasa tanggung jawab pada  adanya kemandirian dalam bentuk kemampuan mengambil keputusan yang mengandung wibawa pendidikan baik secara akademis maupun kualitas guru dalam melaksanakan tugas akademik serta penguasaan keahlian teknis, yang secara spesifik ditunjuk Achmad Sanusi, dengan kemampuan dasar mengenai keguruan, yakni kemampuan membelajarkan siswa yang untuk saat sekarang merupakan suatu conditio sine qua non untuk memiliki penguasaan iptek modern dalam arti konsep, proses dan dasar filosifinya. Lihat Ahmad Sanusi, Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan, (Bandung: FPS IKIP Bandung, 1990), h. 24.
[19] Abdurrhman Al-Nahlawi, Ushul al Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha fi al baiti wa al madrasati wa al mujtama’, Darul Fikri Al Mu’asyir, Bairut, Libanon, 1403 Hijriyah / 1983 Masehi. , h. 205-207.
[20] Athiyah Al-Abrasy, Al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Dar Al Misriyah, 1967), h. 131-135.
[21] Tampubolon, Perguruan Tinggi Bermutu,, h. 22.
[22] Shoji Shiba, Alan Graham, and David Walden, A New American TQM: For Practical Revolution in Management, (Portland: Productivity Press, 1993), h. 50.; Meskipun demikian, ada beberapa difinisi yang dapat dijadikan sebagai acuan. Di antaranya pendapat Crosby, mengatakan bahwa mutu atau kualitas diartikan kesesuaian pada persyaratan (quality is comformance to requirement). Lihat Philip B. Crosby, Quality is Free: The Art of Making Quality Certain, (New York: Mc. Graw Hill Book Company, 1978), h. 10; Bandingkan J.M. Juran, Juran On Quality By Design: The New Steps for Planning Quality into Goods and Service, (New York: The Free Press, 1992), h. 16. Dia berpendapat bahwa mutu atau kualitas diartikan “kecocokan untuk digunakan” (fit for use). Mutu atau kualitas juga sering dihubungkan dengan kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan. Sedang deming, mengartikan mutu atau kualitas dengan perbaikan berkesinambungan (continous improvement).
[23] Tampubolon, Perguruan Tinggi Bermutu,, h. 118-120.
[24] HR. Tilaar, H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 299-300.
[25]Hardyan Setiadi, Peningkatan Kemampuan dalam Pendidikan Tinggi, (Bandung: Pustaka Azzam, 2000), h. 25.
[26] HR. Tilaar, H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru, h. 300.
[28]Judul asli buku tersebut adalah Die Protestantiche Ethic und der Geist des Kapitalismus ( Bahasa Jerman), yang pertama kalinya diterbitkan dalam Archiv fur Socialwissenchaft  und Sozialpolitik, Volume XX dan XXI. Buku yang dijadikan referensi  dalam penelitian ini adalah Max Weber, The Protestan  Ethics and spirit Of Capitalism. Translated by Talcon Parsons ( London: Unwin Hyuman, 1989).
[29] Dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrazi dengan judul Manajemen Mutu Pendidikan, ( Jogjakarta : IRCisoD, 2006) Cet. II.
[30][30][30] Edwar Sallis, Total Quality Management in Education (London Kogan Page 1993.Shaples.dkk “ How TQM  Can Work in Education dalam Quality progress.(May 2003). 251
[31] Edward Sallis in Total Quality Management  Education, Manajemen Mutu Pendidikan, ( Jogjakarta : IRCisoD, 2006) Cet. I, h. 96-100.
[32] M.P. Peak, Total Quality Managemen Transforms The Class: Managemen Review (New York : Quality Resources, 1994)
[34] The conceo of TQM is applicable to academics, Many education that the Deming’s concept of TQMprovides guiding principles for needed educational reform. The quality Revolution in Education, John Jay Bonsting Outline the TQM Principleshe believes . Dari sumber: Applaying TQM in Academics Dheeraj Mehrotra, from http://www.isixsigma.com/Library/con.
[35] Vincent Gasperz, Quality of Management. Yang kemudian hasil penelitian ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan dalam edisi Indonesia yang berjudul, Manajemen Kualitas, ( Jakarta: PT. Gramedia, 1998).
[36] Kapuge and Smith. Penelitian yang berjudul .Managemen Practices and Performance reporting in the Srilanka apparel Sector. 2007 .Penelitian yang mengkaji tentang implementasi TQM pada perusahaan apparel di Srilanka . Dimana hasil penelitian ini menyatakan bahwa adanya perbedaan terkait kinerja yang dihasilkan antara perusahaan atau instansi yang menerapkan TQM dengan perusahaan atau instansi  yang tidak menerapkan TQM. Hasil penelitian mereka juga menunjukkan bahwa dengan menerapkan praktek manajemen dengan pendekatan TQM akan mmpengaruhi kinerja perusahaan atau instansi secara signifikan.
[37] Fion Lim C.B., “Quality Assurance of Australian Offhore Education: The Complexity and Possible Frameworks for Understanding the Issues,” dalam Post-Script: Postgraduate Journal of Education Research, (Vol. 8, No. 1, August 2007), 19-36; Department of Education, Training and Youth Affairs, The Australian Higher Education Quality Assurance Framework, (Australia: Occasional Paper Series 2000-H, Commonwealth of Australia, 2000), 51-67; Jouni Kekale, “Quality Assesment in Diverse Disciplinary Settings,” dalam Higher Education, (Vol. 40, No. 4, December 2000, Kluwer Academic Publisher, Netherlands), 465-488; David Billing, “International Comparisons and Trends in External Quality Assurance of Higher Education: Commonality or Diversity.” Dalam Higher Education, (Vol. 47, No. 1, January 2004, Kluwer Academic Publisher, Netherlands). 113-137; David Pardy, Quality Assurance, (Conference Paper CP516, Blagdon, The Staff Colledge, January 1992), 24; Edward Sallis dan Peter Hingley, College Quality Assurance Systems, (Mendip Paper MP 020, Blagdon, The Staff College, 1991), 35.
[38] Sim K.L. and Killough L.N. (1998), The Performance Effect Complementarities Between Manufacturing Practices and Management Accounting System. Journal of Management Accounting Research. 10 PP. 325-346.
[39] W. Edward Deming, Out of the Crisis, (Combridge University Press, Combridge, 1986), 32;  W. Edward Deming, Quality, Productivity and Competitive Position, (Combridge: MIT, Center for Advanced Engineering Study, 1982), 21; M. Walton, The Deming Management Method, (New York: Putnam, 1986), 121-238. Adalah dianggap sebagai bapak dari gerakan total quality management yang ajarannya terlibat semua tingkatan karyawan dalam mengukur kontrol kualitas, teori Deming pada kontrol kualitas memicu pembaharuan ekonomi Jepang dan meluncurkan gerakan menejemen kualitas total.W.E Deming adalah guru mutu penemu pertama dari TQM setelah perang Dunia kedua. Disamping itu juga penemu Syistem of Profound Knowledge. Sistem pengetahuan mendalam merupakan konsep filosofis  yang terdiri dari empat komponen yang utama , empat komponen tersebut perlu  dikuasai oleh pemimpin:. Pemahaman tentang sistem (sistem adalah  sekumpulan komponen yang saling berhubungan secara teratur dan bekerjasam a untuk tujuan  bersama), Teori keberagaman harus mampu terakomodir ke dalam suatu sistem yang baik, Teori pengetahuan  adalah suatu teori pengetahuan dikembangkan dengan menyatakan suatu teori (hipotes a)  yang bisa dibuktikan dengan data empiris , jika dalam pembuktian benar, maka teori itu  menjadi pengetahuan, Teori psikologi yang nantinya akan  membantu kita memahami pikiran , perasaan serta prilaku manusia yang berhubungan dengan manusia dan hubungan manusia dengan sistem yang melingkupinya.
                [41] Pedoman Akademik  Program Strata 1, dapat di akses di www.uinjkt.ac.id
[42]  Soebagio Atmodiwirjo, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta : Ardadiya, 2005), 273
[43]  A. Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan, (Jakarta Rajawali Pers, 2005), 61.
[44] Suaniz Cocka, Quality Management, Implementing the Best Ideas of the Masters, Deram Books LLC, Manhattan, 45578, h. 57
[45] Laporan Kinerja  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013
[46] Salis, Edward, 1993. Total Quality Management in Education. Kogan Page, London.
[47] Ulrich, Human Resources Champion. Harvard, Business School Press, 1997. Hal. 151-153.
[48] Strauss, AL, Corbin, J. (1990). Basics of qualitative research: grounded theory procedures and technique . Newbury Park: Sage Publications.
[49] S. Nasution . Mettode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung : Penerbit Tarsito 1988), h.29 dan h.31.
[50] Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990).h.60-61; Bandingkan dengan Nasution, h. 127.
[51] Egon G. Guba, Menuju Metodoloi Inkuiri Naturalistik Dalam Evaluasi Pendidikan (Jakarta Djambatan, 1987), h.202.
[52]David Krech.Et.al. Individual in Society, (Tokyo:McGraw-Hill Kogakusha, 1982), h.277

Tidak ada komentar:

Posting Komentar